Dapat uang melalui internet

Tampilkan postingan dengan label Fiksi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Fiksi. Tampilkan semua postingan

SURAT CINTA UNTUK KAMILA

14 Feb 2016

Di lereng bukit yang tidak sebegitu jauh dari perkampungan. Ada sebuah rumah kuno, besar, dan temboknya sudah mengelupas. Pagarnya pun juga sudah reot termakan rayap. Di salah satu cendela yang selalu terbuka, juga terdapat sarang spiderman yang makin menambah kesan bahwa rumah ini sudah lama ditinggal penghuninya.

Rumah tersebut amat kumuh dan korat-karit. Menurut beberapa orang di kampung, dulu rumah tersebut pernah ditinggali oleh sebuah keluarga harmonis dan elegant. Seorang pengusaha sukses dan seorang bidan sebagai pengurus rumah tangga. Mereka dikaruniai sepasang putri cantik yang lahir kembar. Alangkah bahagianya keluarga tersebut. Hidup serba berkecukupan dan menyenangkan.

Lantas mengapa rumah tersebut menjadi sekumuh dan semenakutkan seperti sekarang ini? Kemanakah orang-orang yang dulu pernah tinggal dirumah ini? Ahh sudahlah.

Kamila, seorang gadis kecil yang cantik, sederhana, namun ramah. Setiap berangkat dan pulang dari sekolah selalu melewati rumah di lereng bukit itu. Dan setiap dia melewati rumah itu matanya tidak pernah berhenti menatap setiap sudut rumah kuno itu. Batinnya selalu penasaran ingin masuk dan melihat-lihat isi rumah itu. Tetapi lagi-lagi dia mesti mengurungkan niatnya karena takut tidak akan bisa kembali.

Suatu saat Kamila melihat seorang perempuan tua yang rambutnya sudah mulai berubah warna. Perempuan ringkih yang parasnya masih terkesan ayu. Perempuan itu sempat menatap Kamila sedikit tersenyum saat pulang dari sekolah. Seketika itu juga Kamila berlari seperti tidak percaya bahwa perempuan itu adalah manusia. Itu pasti hantu, pikir Kamila.

Bruk!!!

“Loh loh nduk, kenapa to?” selidik sang ibu yang heran melihat putrinya tergesa-gesa masuk rumah tanpa memberikan salam. “Pelan-pelan minumnya, sayang” kata ibu mencoba menenangkan.
Kamila memeluk ibunya, sembari mengatur nafas. “Anu, Bu, ada hantu” rengek Kamila. “Kamila takut, Bu” tambahnya.

“Hahaa, Kamila tidak sedang ngelindur kan?” ejek ibunya. “Mosok, siang bolong gini ada hantu, nduk?” ibunya tertawa.

“Benar, Bu. Kamila tidak bohong, ada hantu di rumah kuno itu” ucap Kamila. “Rumah kuno, rumah kuno yang mana?” tanya ibu. “Di desa kita kan banyak rumah kuno” ibu mulai penasaran.

“Itu, Bu. Rumah kuno yang besar di ujung jalan” Kamila memeluk ibunya makin erat. “Tadi Kamila melihat ada hantu perempuan tua disana” tangannya menunjuk ke arah rumah kuno.

Seketika itu Ibu Kamila kaget, lebih kaget dari padanya. “Bu, kok ibu diam? Ibu tau siapa perempuan itu?” selidik Kamila yang penasaran. “Oh, tidak kok nduk. Sudah, tidak ada hantu di siang hari gini” Ibu Kamila melepaskan pelukan putrinya. “Ayo cepat mandi sana, baumu kecut, nduk” ucap ibunya. “Ibu tadi masak sambel tempe kesukaanmu” tambahnya. Kamila mengangguk lantas menuju kamar mandi sesuai perintah ibunya.

Namun ada yang aneh dengan ibu, seperti ada yang disembunyikan dari Kamila mengenai sesosok hantu perempuan itu.

Keesokan harinya Kamila ogah melewati rumah itu. Kamila lebih memilih jalan memutar meskipun jauh. Dia berharap dapat segera melupakan kejadian di rumah tua itu. Namun semakin dilupakan, bayangan perempuan tua itu makin terus dipikirkannya. “Siapa perempuan itu, apa pemilik baru rumah misterius itu?” pikir Kamila.

Dan anehnya semenjak kejadian siang itu, ibu makin sering kelihatan merenung, kadang juga menangis. Pernah suatu saat ku tanya tentang keadaannya yang mungkin sakit atau ada masalah lain. Ibu malah menyuruhku untuk tidak mengkhawatirkannya. “Ibu baik-baik saja kok nduk” begitu saja jawabnya.

Ini tidak bisa dibiarkan, pikir Kamila. Rasa keingintahuan membuat Kamila harus menjadi lebih berani. Akhirnya pada saat berangkat ke sekolah Kamila kembali melewati rumah itu. Di depan pagar Kamila clingak-clinguk mencari perempuan tua yang masih kelihatan ayu itu. Pintu rumah tertutup rapat, hanya cendela di sisi rumah itu yang terbuka. Namun kali ini cendela itu terlihat bersih. Bunga-bunga dan rerumputan juga kelihatan lebih rapi.

Kemana perginya perempuan itu? Mungkinkah dia masih tertidur? Sembari memikirkan segala kemungkinan yang ada. Tiba-tiba ada yang memegang pundak kanan Kamila. Dirabanya tangan itu sembari menoleh ke belakang. Seandainya benar perempuan hantu itu, Kamila sudah siap dengan kuda-kuda beladirinya.

“Assalamualaikum, Kamila. Mau berangkat ke sekolah ya, nak?” benar saja inilah perempuan tua itu. Kali ini dia menatap Kamila dengan senyuman yang sangat manis dan tulus. “I i iya mbah, eh bi. Waalaikumsalam” jawabnya masih dengan perasaan tidak percaya. “Jangan takut, saya bukan hantu. Uhuk uhuk uhuk” perempuan tua itu rupaya sedang sakit. Terlihat sekali dari batuknya yang sudah membuat dadanya sesak. “Pergilah, nanti kau terlambat” perintahnya. Kamila hanya mengangguk lantas pergi.

Kamila sekolah di lembaga pendidikan swasta di kampungnya. Kamila mempunyai banyak teman. Selain terkenal pintar, Kamila juga rendah hati dan tidak pernah sombong. Itulah sebabnya Kamila di sukai oleh banyak teman-temannya.

“Hey, ngelamunin apaan sih?” sapa Rohma. Rohma adalah sahabatnya satu kampung dan satu bangku. “Gak ada apa apa kok, Ma” jawabnya asal. “Aku itu jelas tau kalau kamu sedang memikirkan sesuatu. Eh kita itu sudah berteman sangat lama jadi ayo dong, ceritakan masalahmu. Masak kamu gak percaya sama aku” timpal Rohma panjang lebar. “Sudahlah ayo ke kelas” Kamila pun beranjak keluar dari kantin sekolah, diikuti Rohma yang semakin penasaran dengan tingkah sahabatnya hari ini.

Siang itu Kamila berjalan dengan santainya sepulang dari sekolah. Namun langkah Kamila terhenti. “Itu kan ibu. Kenapa ibu terlihat sangat patuh pada perempuan tua misterius itu? Ada hubungan apa ibu dengan perempuan tua itu?” kali ini Kamila benar-benar di buat bingung oleh keadaan ini.

Sesampainya di rumah, keadaan masih tetap saja seperti biasa. Ibu masih saja selalu melamun dan tidak banyak bicara. Kamila tidak berani untuk lebih jauh bertanya mengenai pertemuannya dengan perempuan tua itu. “Makanlah, lalu istirahat, jangan lupa sholat ya, nduk” perintahnya. Kamila hanya mengangguk dan tersenyum “Baik, bu!”.

Dan seminggu setelah itu, Kamila tidak pernah bertemu lagi dengan perempuan tua misterius itu. Kemana perginya, pikir Kamila. Pagar rumah kuno itu juga sudah di gembok lagi seperti dulu. Ada getaran yang entah mengapa sulit untuk diartikan. Getaran itu antara penasaran dan kerinduan.
Sekonyong-konyong Bu Farida menemui anaknya di sekolah. Dengan rentetan ucapan maaf diiringi air mata. Kamila kecewa namun tak pantas ia lakukan. Kamila ingin marah namun yakin azab akan menimpanya. Perihal secarik kertas yang ia genggam dengan erat. “Kenapa ibu tega melakukan ini semua pada Kamila?” tanya Kamila dalam tangisnya. Bu Farida hanya diam tak sanggup berkata apapun.
"Jakarta, hari ini.

Kamila, anakku.
Jujur, dapat bertemu kembali denganmu adalah kesempatan indah bagi ibu. Maafkan ibu, nak. Kau boleh marah dengan kenyataan ini, sebab itu adalah hakmu sepenuhnya.


Hari ini adalah hari terakhir yang sudah dokter tentukan mengenai hidup ibu. Ibu sudah berusaha menahannya demi kamu, Kamila. Demi melihatmu. Namun maaf, kali ini ibu harus benar-benar menyerah. Ibu sudah tidak kuat lagi hidup bersama penyakit ini, sayang.


Sebenarnya, ibu sudah menunggu saat-saat ini dengan sangat lama. Dimana kami akan bersama-sama melihatmu bahagia melalui surga. Ayahmu dan saudara kembarmu juga pasti sudah menantikan ibu disana. Kau benar-benar mirip dengan Kalima, kakakmu. Seandainya dia masih hidup, mungkin Kalima akan tumbuh secantik dan semanis dirimu.


Rumah, perkebunan, serta aset keluarga sudah ibu konsultasikan dengan pengacara kita. Semoga semuanya dapat kau manfaatkan dengan baik suatu saat nanti.


Hiduplah bahagia bersama Bibi Farida. Beliau sudah berkorban banyak untuk keluarga kita. Jagalah beliau, bahagiakan beliau, sayang. Kami semua mencintaimu.


Ibumu
Rosalina
"

Innalillahi wa innallillahi rojiun. Ibu, kenapa harus secepat ini. Ya Allah jaga keluargaku, hapuskanlah dosa-dosa mereka. Ayah, ibu, kak Kalima, aku juga mencintai kalian.
Read more ...

WANITA DAN KOPI DI SENJA HARI

12 Mei 2014
Wanita Dan Kopi Di Senja Hari, Jaswan, Pacapaku, Imam Sujaswanto
Aku kembali duduk disini. Bila dua tahun yang lalu aku duduk bersama sahabat-sahabatku dan mulai mengagumimu. Namun, kini tidak lagi. Aku menikmati kopi bersama anak kita, Fitriani. Hari ini masih sama Yur, senja yang menakjupkan. Semenakjupkannya kamu saat mulai tergopoh turun dari dalam mobilmu. Kau cantik sama seperti anak kita. Lihatlah, dia begitu sangat menyukai kopi. Dan aku sangat beruntung memilikinya. Selalu ada secangkir kopi saat aku pergi mengajar. Dan rasanya masih sama dengan buatanmu dulu. Aku masih mencintaimu.

"Ayah, kita pulang yuk. Sebentar lagi Maghrib. Aku ingin mendo'akan Mama Yuri. Agar beliau selalu sabar menunggu kita menemuinya kelak".
Mataku berkaca, memeluk Fitriani erat. Aku mengangguk bangga padanya. Yuri, ini anakmu. Dia amat bangga memilikimu. Meskipun kau tidak disini lagi, melainkan di surga sana.

Budhe Yanik juga turut tersenyum getir. Tangannya mengelus dadanya. Beliau mengelus poni dan lantas memeluk anakku.

-Yuri Amora Trihapsari-

Wanita cantik. Selalu sibuk dengan aktifitasnya setiap hari. Setelah lulus S2 dari perguruan tinggi jurusan kesehatan di Jember, dia melanjutkan perjuangannya di salah satu Rumah Sakit Daerah yang berada cukup jauh dari jarak kota tempatnya berkuliah dulu. Dia memproklamirkan hidupnya untuk membantu orang lain, juga berniat mencukupi hidup kedua adik dan seorang ibunya. Kehidupan telah menjadikannya wanita pekerja keras setelah di tinggal ayah tercintanya satu tahun yang lalu. Dia gadis yang tangguh, meski yatim.

-Doni Maulana-

Bujangan berbadan gemuk. Gemar sekali minum kopi. Berkumpul, dan bercengkrama dengan para sahabatnya adalah aktifitas yang setiap hari dilakukannya, tentu setelah mengajar sukarela anak-anak sekolah dasar di desanya. Dia sosok yang telaten, terlihat sekali dari caranya menuruti setiap rengekan murid-muridnya saat bimbingan belajar berlangsung. Dia juga cukup punya banyak ilmu untuk bercerita, bahkan sahabat-sahabatnya mengakui keunggulan salah satu sahabatnya ini. Mungkin setiap harinya kamuslah yang menjadi menu sarapan hingga makan malam. Dan ini yang membuat murid-muridnya betah berlama-lama belajar sambil mendengarkan sosoknya berceloteh.

~0~

Saat aku duduk manis bersama para sahabatku di warung kopi. Sebuah mobil chery hitam berhenti tepat di depan kami. Tidak membutuhkan waktu lama untuk membuat sopirnya keluar. Dan benar dalam hitungan detik pintu mobil itu terbuka oleh dorongan sopirnya. Mata para sahabatku melotot tajam, fokus dengan kejadian di luar warung. Seorang wanita berseragam rapi keluar dari dalam mobil. Namun aku biasa saja. Agaknya dia adalah salah satu pegawai bank ternama di Indonesia bila di lihat dari dandanannya. Sepatu high heels hitam dan make up wajahnya yang sedikit tebal dan menor.

Ke tiga sahabatku masih saja terpana oleh wanita itu. Hampir tak berkedip. Kuhentak meja warung, seraya mereka menoleh dan mendorong pundakku, "ganggu ae kowe le" protes mereka. Hatiku tertawa kecil melihat sikap mereka. Ku rasa mereka terlalu awam untuk sekedar melihat wanita yang tampak seperti Luna Maya itu. Hatiku kembali tertawa kecil.

Yuri turun dari mobilnya dengan tergesa. Masuk warung dan meraih plastik di centelan. Di bungkusnya pisang goreng tanpa melirik sedikitpun ke arah kami yang sedang asik mencicipi kopi pahit buatan Budhe Yanik sang pemilik warung. Sedangkan ketiga sahabatku masih saya nggerundel dalam hatinya seraya cekikikan. Tingkah mereka makin membuat aku parno dan kepo. Gila, gumamku dalam hati.

"Seperti biasa ya mak!" wanita itu mengeluarkan lima lembar pecahan dua ribuan, dan menyodorkannya ke Budhe Yanik. "Iyo ndok, kesuwun" jawab Budhe Yanik dengan ramahnya.

Rupanya budhe cukup mengenal baik wanita cantik ini, gumamku dalam hati. Sepertinya aku harus mengakui kalau dia cantik. Iya cantik dari sisi luar saja, dan tanpa aku mengetahui hatinya seperti apa, masa bodohlah.

Didorongnya perseneling, dan mobil itu melaju setelah sang sopir menekan pedal gasnya. Seketika mobil itu lenyap dari pandangan, dan aku masih terpaku melihatnya.

Kopi kami tinggal ampas, dan kami menyudahi ngopi kali ini. Tentunya ngopi ini cukup berbeda, karena sosok wanita manis itu tadi yang sampai sekarang belum aku ketahui namanya dan apa pekerjaannya.

Kami keluar warung. Sementara aku masih di dalam warung untuk menyelesaikan administrasi pembayaran yang sudah kita lahap sedari tadi. "Sesok, ngopi maneh rek! Ben ketemu mbk ayu iku mau, jan tok cer poko'e" salah satu sahabatku memberikan saran yang bagiku itu cukup konyol untuk di dengar. Mereka keluar beriringan dan aku masih menunggu budhe menghitung uang kembalian kami.
"Seng betho mobil niku wu sinten dhe?" dan rupanya aku cukup penasaran dengan wanita itu. Budhe Yanik mesem seraya memberikan uang receh.
"Bidan le, iki kerjo nang RSUD!" tangan Budhe Yanik menunjuk arah rumah sakit yang sebenarnya akupun sudah tau rumah sakit itu. "Hayoo, kesengsem yo?" Budhe Yanik meledek.
"Opo to yo budhe iki, kulo wangsul dhe" protesku lantas aku bergegas menyusul sahabat-sahabatku.

Malamnya aku sulit untuk terlelap, terutama setelah kejadian tadi siang di warung kopi. Wanita itu terus membayangi fikiranku. Ku tarik laci kamar tidurku. Kuambil amplop di dalamnya dan mulai ku baca secara seksama. Surat Keputusan Dinas. Yuri Amora Trihapsari. Umurnya masih 26 tahun, lebih muda dariku setahun. Aku tau ini surat penting, namun karena begitu cerobohnya wanita itu tak terasa surat ini jatuh saat beranjak dari warung Budhe Yanik. Aku harus mengembalikannya besok. Ku rasa ini sangat penting untuknya juga pekerjaannya.

Pagi hari di rumah sakit. Terlihat sekali ruangan besar ini penuh dengan orang-orang berpenyakitan. Aku sedikit muak. Kalau saja aku tidak merasa bertanggung jawab mengembalikan amplop ini, aku tidak mungkin mau berada di sini.

Aku mendekat di lobi, bertanya dengan salah satu penjaga lobi yang juga berpakaian sama dengan wanita itu kemarin. "Saya mau bertemu dengan Yuri. Yuri Amora Trihapsari, dimana ruangannya mbk?" sapaku. "Lurus saja mas, lalu belok kiri, ada tangga menuju lantai dua. Dan ruangan Bu Yuri tepat di muka tangga" jawab penjaga lobi seraya memperagakan tangannya seperti dalang. "Baiklah terima kasih" lanjutku dan segera bergegas menuju ruangan gadis itu, Yuri maksudku.

Ku ucap salam seraya mengetok pintu ruangan bertuliskan namanya. "Masuk!!!" jawabnya dari dalam. Aku tak pandai mengartikan detak jantungku, tiba-tiba saja aku kikuk memasuki ruangan ini. Berdebar lebih kencang, dan semakin kencang setelah wanita berambut lurus sebahu itu tersenyum dan mempersilahkan aku duduk tepat di depan matanya yang dalam. Dan benar saja wanita ini memang cantik. Aku kembali terpana kedua kalinya. Dan sepertinya aku mulai menyukainya.

~ Seminggu Setelahnya ~

Aku tidak tau kenapa aku ingin berpenampilan semenarik mungkin di depannya. Baju yang biasa aku pakek aku semprot parfum sebanyak-banyaknya. Ku raih jaket kulitku. Tshit ku juga masih baru dua hari yang lalu aku beli di salah satu supermarket. Ku starter motorku dan aku siap berangkat menemuinya dan mengajaknya jalan. Ini pertama kali aku kencan dengannya. Aku harap ini memang kencan. Dengan Yuri.

Seminggu setelah ku kembalikan amplop itu, Yuri menjadi semakin ramah denganku. Aku berhasil mendapatkan nomor ponsel dan alamat rumahnya. Dan aku menjadi semakin gila di buatnya. Aku semakin sering senyum-senyum sendiri saat membalas sms-nya. Dan ini membuat sahabat-sahabatku merasa kalah telak denganku.

Seharusnya aku tidak perlu berdandan seheboh ini bila Yuri memilih kencan di warung Budhe Yanik. Seleranya payah. Namun dia memang sosok yang sederhana, tidak neko-neko. Dan dia semakin terlihat cantik. "Wah wah wah sudah pacaran to le?" ledek budhe, aku tak menjawab dan hanya tersenyum kepada budhe. "Emangnya mboten angsal to mak?" sahut Yuri seraya mengedipkan matanya. Dan ini mampu membuatku girang juga malu. Budhe dan Yuri akhirnya tersenyum lebar.

"Aku mau tanya sama kamu tapi jangan marah ya?" matanya memang benar-benar indah. Dan aku mengangguk. "Apa yang membuatmu menyukaiku?"
"Matamu, yang membuatmu semakin cantik. Dan aku menyukai itu Yur" ku teguk kopiku yang mulai terlihat tak menguap.
"Apa kau berniat tulus denganku, Don? Apa ini tidak terlalu cepat untuk kau putuskan? Kau belum mengenalku lebih jau, siapa dan bagaimana aku?" rautnya berubah serius namun matanya tetap tajam dan sejuk.
"Tidak perlu!!!" tandasku. "Karena aku sudah sangat yakin, bahwa kau mampu membuatku merasa nyaman di dekatku" lanjutku tegas.

~ Setahun Berlalu ~

Jantungku berdetak kencang. Lebih kencang dari pada saat aku pertama bertemu dengan gadis di sampingku ini. Kini kita dalam situasi yang sama. Kepala kami di balut dengan selendang putih bemotif batik. Sementara tanganku masih menjabat seorang di depan kami. "Saya terima nikahnya Yuri Amora Trihapsari . . . . . . ". Semuanya berubah hikmat, ku lihat Yuri bercikutat dengan air matanya. Namun ini air mata kebahagiaan. Begitu pula denganku. Duduk sungkem di depan orang tua dan mertuaku satu-satunya. Kami direstui menikah.

~0~

Telponku berdering di mejaku. Anak-anak masih dalam jam istirahat setelah jam pertama selesai. "Assalamualaikum buk" sapaku sopan, "Waalaikumussalam, le cepetan berangkat nang RSUD yo!!! Saiki pokok'e. Anakmu arep lahir" jawab ibu mertuaku dengan nada serius. Aku merasakan perasaan yang luar biasa hebat, aku yakin ini perasaan bahagia. Sebentar lagi aku jadi bapak. "Injih bu. Assalamualaikum". Aku tutup telponku, dan aku bersiap-siap.

Anak-anak aku pulangkan, dan mereka mengerti alasanku. Segera ku pacu motorku lebih cepat. Aku tidak mau bila sedikitpun terlambat. Yuri, tunggu aku, gumamku dalam hati.

Setelah ku parkir motorku, segera aku berlari menuju ruang bersalin. Orang tua dan mertuaku menyambutku dengan senyuman bangga namun matanya sedikit berkaca. Bukahkan seharusnya mereka tersenyum bangga denganku? Karena sebentar lagi mereka akan mempunyai seorang cucu. Ku lihat ayahku sedari tadi diam. Sementara ibu dan mertuaku nyata-nyata menangis di depanku. Apa yang sebenarnya terjadi?

Aku memaksa masuk ke ruang bersalin. Seorang dokter spesialin kandungan datang menemuiku. Aku sudah mengenalnya, Dokter Dina Pamuji. Beliau menjabat tanganku "Selamat ya pak, sekarang bapak sudah punya anak. Namun . . . " Dokter Dina berhenti berbicara lantas memelukku.
"Ada apa dok? Bagaimana dengan anakku? Yuri baik-baik saja kan?" tanyaku memaksa.
"Anak bapak cantik dan juga sehat. Namun, maaf kami sudah berusaha semaksimal mungkin. Ibu Yuri, tidak tertolong" hatiku bagai di hantam seribu batu besar. Aku lunglai di depan jasad Yuri, istriku. Air mataku membuncah seketika, dan kepedihanku semakin pilu saat suster memberikan anakku yang baru terlahir. Di juga cantik, sama seperti ibunya.

~ Tamat ~
Read more ...