WANITA DAN KOPI DI SENJA HARI

12 Mei 2014
Wanita Dan Kopi Di Senja Hari, Jaswan, Pacapaku, Imam Sujaswanto
Aku kembali duduk disini. Bila dua tahun yang lalu aku duduk bersama sahabat-sahabatku dan mulai mengagumimu. Namun, kini tidak lagi. Aku menikmati kopi bersama anak kita, Fitriani. Hari ini masih sama Yur, senja yang menakjupkan. Semenakjupkannya kamu saat mulai tergopoh turun dari dalam mobilmu. Kau cantik sama seperti anak kita. Lihatlah, dia begitu sangat menyukai kopi. Dan aku sangat beruntung memilikinya. Selalu ada secangkir kopi saat aku pergi mengajar. Dan rasanya masih sama dengan buatanmu dulu. Aku masih mencintaimu.

"Ayah, kita pulang yuk. Sebentar lagi Maghrib. Aku ingin mendo'akan Mama Yuri. Agar beliau selalu sabar menunggu kita menemuinya kelak".
Mataku berkaca, memeluk Fitriani erat. Aku mengangguk bangga padanya. Yuri, ini anakmu. Dia amat bangga memilikimu. Meskipun kau tidak disini lagi, melainkan di surga sana.

Budhe Yanik juga turut tersenyum getir. Tangannya mengelus dadanya. Beliau mengelus poni dan lantas memeluk anakku.

-Yuri Amora Trihapsari-

Wanita cantik. Selalu sibuk dengan aktifitasnya setiap hari. Setelah lulus S2 dari perguruan tinggi jurusan kesehatan di Jember, dia melanjutkan perjuangannya di salah satu Rumah Sakit Daerah yang berada cukup jauh dari jarak kota tempatnya berkuliah dulu. Dia memproklamirkan hidupnya untuk membantu orang lain, juga berniat mencukupi hidup kedua adik dan seorang ibunya. Kehidupan telah menjadikannya wanita pekerja keras setelah di tinggal ayah tercintanya satu tahun yang lalu. Dia gadis yang tangguh, meski yatim.

-Doni Maulana-

Bujangan berbadan gemuk. Gemar sekali minum kopi. Berkumpul, dan bercengkrama dengan para sahabatnya adalah aktifitas yang setiap hari dilakukannya, tentu setelah mengajar sukarela anak-anak sekolah dasar di desanya. Dia sosok yang telaten, terlihat sekali dari caranya menuruti setiap rengekan murid-muridnya saat bimbingan belajar berlangsung. Dia juga cukup punya banyak ilmu untuk bercerita, bahkan sahabat-sahabatnya mengakui keunggulan salah satu sahabatnya ini. Mungkin setiap harinya kamuslah yang menjadi menu sarapan hingga makan malam. Dan ini yang membuat murid-muridnya betah berlama-lama belajar sambil mendengarkan sosoknya berceloteh.

~0~

Saat aku duduk manis bersama para sahabatku di warung kopi. Sebuah mobil chery hitam berhenti tepat di depan kami. Tidak membutuhkan waktu lama untuk membuat sopirnya keluar. Dan benar dalam hitungan detik pintu mobil itu terbuka oleh dorongan sopirnya. Mata para sahabatku melotot tajam, fokus dengan kejadian di luar warung. Seorang wanita berseragam rapi keluar dari dalam mobil. Namun aku biasa saja. Agaknya dia adalah salah satu pegawai bank ternama di Indonesia bila di lihat dari dandanannya. Sepatu high heels hitam dan make up wajahnya yang sedikit tebal dan menor.

Ke tiga sahabatku masih saja terpana oleh wanita itu. Hampir tak berkedip. Kuhentak meja warung, seraya mereka menoleh dan mendorong pundakku, "ganggu ae kowe le" protes mereka. Hatiku tertawa kecil melihat sikap mereka. Ku rasa mereka terlalu awam untuk sekedar melihat wanita yang tampak seperti Luna Maya itu. Hatiku kembali tertawa kecil.

Yuri turun dari mobilnya dengan tergesa. Masuk warung dan meraih plastik di centelan. Di bungkusnya pisang goreng tanpa melirik sedikitpun ke arah kami yang sedang asik mencicipi kopi pahit buatan Budhe Yanik sang pemilik warung. Sedangkan ketiga sahabatku masih saya nggerundel dalam hatinya seraya cekikikan. Tingkah mereka makin membuat aku parno dan kepo. Gila, gumamku dalam hati.

"Seperti biasa ya mak!" wanita itu mengeluarkan lima lembar pecahan dua ribuan, dan menyodorkannya ke Budhe Yanik. "Iyo ndok, kesuwun" jawab Budhe Yanik dengan ramahnya.

Rupanya budhe cukup mengenal baik wanita cantik ini, gumamku dalam hati. Sepertinya aku harus mengakui kalau dia cantik. Iya cantik dari sisi luar saja, dan tanpa aku mengetahui hatinya seperti apa, masa bodohlah.

Didorongnya perseneling, dan mobil itu melaju setelah sang sopir menekan pedal gasnya. Seketika mobil itu lenyap dari pandangan, dan aku masih terpaku melihatnya.

Kopi kami tinggal ampas, dan kami menyudahi ngopi kali ini. Tentunya ngopi ini cukup berbeda, karena sosok wanita manis itu tadi yang sampai sekarang belum aku ketahui namanya dan apa pekerjaannya.

Kami keluar warung. Sementara aku masih di dalam warung untuk menyelesaikan administrasi pembayaran yang sudah kita lahap sedari tadi. "Sesok, ngopi maneh rek! Ben ketemu mbk ayu iku mau, jan tok cer poko'e" salah satu sahabatku memberikan saran yang bagiku itu cukup konyol untuk di dengar. Mereka keluar beriringan dan aku masih menunggu budhe menghitung uang kembalian kami.
"Seng betho mobil niku wu sinten dhe?" dan rupanya aku cukup penasaran dengan wanita itu. Budhe Yanik mesem seraya memberikan uang receh.
"Bidan le, iki kerjo nang RSUD!" tangan Budhe Yanik menunjuk arah rumah sakit yang sebenarnya akupun sudah tau rumah sakit itu. "Hayoo, kesengsem yo?" Budhe Yanik meledek.
"Opo to yo budhe iki, kulo wangsul dhe" protesku lantas aku bergegas menyusul sahabat-sahabatku.

Malamnya aku sulit untuk terlelap, terutama setelah kejadian tadi siang di warung kopi. Wanita itu terus membayangi fikiranku. Ku tarik laci kamar tidurku. Kuambil amplop di dalamnya dan mulai ku baca secara seksama. Surat Keputusan Dinas. Yuri Amora Trihapsari. Umurnya masih 26 tahun, lebih muda dariku setahun. Aku tau ini surat penting, namun karena begitu cerobohnya wanita itu tak terasa surat ini jatuh saat beranjak dari warung Budhe Yanik. Aku harus mengembalikannya besok. Ku rasa ini sangat penting untuknya juga pekerjaannya.

Pagi hari di rumah sakit. Terlihat sekali ruangan besar ini penuh dengan orang-orang berpenyakitan. Aku sedikit muak. Kalau saja aku tidak merasa bertanggung jawab mengembalikan amplop ini, aku tidak mungkin mau berada di sini.

Aku mendekat di lobi, bertanya dengan salah satu penjaga lobi yang juga berpakaian sama dengan wanita itu kemarin. "Saya mau bertemu dengan Yuri. Yuri Amora Trihapsari, dimana ruangannya mbk?" sapaku. "Lurus saja mas, lalu belok kiri, ada tangga menuju lantai dua. Dan ruangan Bu Yuri tepat di muka tangga" jawab penjaga lobi seraya memperagakan tangannya seperti dalang. "Baiklah terima kasih" lanjutku dan segera bergegas menuju ruangan gadis itu, Yuri maksudku.

Ku ucap salam seraya mengetok pintu ruangan bertuliskan namanya. "Masuk!!!" jawabnya dari dalam. Aku tak pandai mengartikan detak jantungku, tiba-tiba saja aku kikuk memasuki ruangan ini. Berdebar lebih kencang, dan semakin kencang setelah wanita berambut lurus sebahu itu tersenyum dan mempersilahkan aku duduk tepat di depan matanya yang dalam. Dan benar saja wanita ini memang cantik. Aku kembali terpana kedua kalinya. Dan sepertinya aku mulai menyukainya.

~ Seminggu Setelahnya ~

Aku tidak tau kenapa aku ingin berpenampilan semenarik mungkin di depannya. Baju yang biasa aku pakek aku semprot parfum sebanyak-banyaknya. Ku raih jaket kulitku. Tshit ku juga masih baru dua hari yang lalu aku beli di salah satu supermarket. Ku starter motorku dan aku siap berangkat menemuinya dan mengajaknya jalan. Ini pertama kali aku kencan dengannya. Aku harap ini memang kencan. Dengan Yuri.

Seminggu setelah ku kembalikan amplop itu, Yuri menjadi semakin ramah denganku. Aku berhasil mendapatkan nomor ponsel dan alamat rumahnya. Dan aku menjadi semakin gila di buatnya. Aku semakin sering senyum-senyum sendiri saat membalas sms-nya. Dan ini membuat sahabat-sahabatku merasa kalah telak denganku.

Seharusnya aku tidak perlu berdandan seheboh ini bila Yuri memilih kencan di warung Budhe Yanik. Seleranya payah. Namun dia memang sosok yang sederhana, tidak neko-neko. Dan dia semakin terlihat cantik. "Wah wah wah sudah pacaran to le?" ledek budhe, aku tak menjawab dan hanya tersenyum kepada budhe. "Emangnya mboten angsal to mak?" sahut Yuri seraya mengedipkan matanya. Dan ini mampu membuatku girang juga malu. Budhe dan Yuri akhirnya tersenyum lebar.

"Aku mau tanya sama kamu tapi jangan marah ya?" matanya memang benar-benar indah. Dan aku mengangguk. "Apa yang membuatmu menyukaiku?"
"Matamu, yang membuatmu semakin cantik. Dan aku menyukai itu Yur" ku teguk kopiku yang mulai terlihat tak menguap.
"Apa kau berniat tulus denganku, Don? Apa ini tidak terlalu cepat untuk kau putuskan? Kau belum mengenalku lebih jau, siapa dan bagaimana aku?" rautnya berubah serius namun matanya tetap tajam dan sejuk.
"Tidak perlu!!!" tandasku. "Karena aku sudah sangat yakin, bahwa kau mampu membuatku merasa nyaman di dekatku" lanjutku tegas.

~ Setahun Berlalu ~

Jantungku berdetak kencang. Lebih kencang dari pada saat aku pertama bertemu dengan gadis di sampingku ini. Kini kita dalam situasi yang sama. Kepala kami di balut dengan selendang putih bemotif batik. Sementara tanganku masih menjabat seorang di depan kami. "Saya terima nikahnya Yuri Amora Trihapsari . . . . . . ". Semuanya berubah hikmat, ku lihat Yuri bercikutat dengan air matanya. Namun ini air mata kebahagiaan. Begitu pula denganku. Duduk sungkem di depan orang tua dan mertuaku satu-satunya. Kami direstui menikah.

~0~

Telponku berdering di mejaku. Anak-anak masih dalam jam istirahat setelah jam pertama selesai. "Assalamualaikum buk" sapaku sopan, "Waalaikumussalam, le cepetan berangkat nang RSUD yo!!! Saiki pokok'e. Anakmu arep lahir" jawab ibu mertuaku dengan nada serius. Aku merasakan perasaan yang luar biasa hebat, aku yakin ini perasaan bahagia. Sebentar lagi aku jadi bapak. "Injih bu. Assalamualaikum". Aku tutup telponku, dan aku bersiap-siap.

Anak-anak aku pulangkan, dan mereka mengerti alasanku. Segera ku pacu motorku lebih cepat. Aku tidak mau bila sedikitpun terlambat. Yuri, tunggu aku, gumamku dalam hati.

Setelah ku parkir motorku, segera aku berlari menuju ruang bersalin. Orang tua dan mertuaku menyambutku dengan senyuman bangga namun matanya sedikit berkaca. Bukahkan seharusnya mereka tersenyum bangga denganku? Karena sebentar lagi mereka akan mempunyai seorang cucu. Ku lihat ayahku sedari tadi diam. Sementara ibu dan mertuaku nyata-nyata menangis di depanku. Apa yang sebenarnya terjadi?

Aku memaksa masuk ke ruang bersalin. Seorang dokter spesialin kandungan datang menemuiku. Aku sudah mengenalnya, Dokter Dina Pamuji. Beliau menjabat tanganku "Selamat ya pak, sekarang bapak sudah punya anak. Namun . . . " Dokter Dina berhenti berbicara lantas memelukku.
"Ada apa dok? Bagaimana dengan anakku? Yuri baik-baik saja kan?" tanyaku memaksa.
"Anak bapak cantik dan juga sehat. Namun, maaf kami sudah berusaha semaksimal mungkin. Ibu Yuri, tidak tertolong" hatiku bagai di hantam seribu batu besar. Aku lunglai di depan jasad Yuri, istriku. Air mataku membuncah seketika, dan kepedihanku semakin pilu saat suster memberikan anakku yang baru terlahir. Di juga cantik, sama seperti ibunya.

~ Tamat ~

25 komentar:

  1. duh sedih ya harus kehilangan istrinya

    BalasHapus
  2. Jadi ikut sedih membaca ini,,,,,,,,
    Tapi aku suka dengan gamabr photonya Kang smoth banget deh..... :D

    Salam

    BalasHapus
  3. Waaah, sudah mulai nulis fiksi ya
    Semangat yaa. Mari belajar lagi :)

    BalasHapus
  4. beraaat rasanya kehilangan orang tercinta...touchy...sukses dengan fiksinya..

    BalasHapus
  5. uhui.... sudah miksi nih..... maaf ya lama ga mampir.
    ceritanya sedang sibuk. tapi bersaha come back kok.

    BalasHapus
  6. yuuuhuuu selamat buat fiksinya

    BalasHapus
  7. KOPI Pokoknya tiada hari tanpa kopi

    BalasHapus
  8. kehilangan istri, duh ngga kebayang

    BalasHapus
  9. Kehilangan seorang kekasih aja susah buat Move on nya apalagi kalau harus kehilangan istri,, sulit untuk dibayangkan seperti apa -__-. Ceritanya cukup sedih dan membuat pembacanya seakan masuk kedalam ruang lingkup isi cerita

    BalasHapus
  10. manteb nih Kang ceritanya, mampu membawa pembaca seolah memasuki cerita. Bahagia karena sudah mendapatkan momongan yang harus dibayar dengan kehilangan salah satu yang dicintainya

    BalasHapus
  11. Duh, sedih sekali tapi mengharukan....

    BalasHapus
  12. Yuri yang cantik dan menerima pasangan apa adanya, tapi kenapa endingnya harus tragis..
    Kayaknya ada yang mulai berminat ngikuti FF deh :D

    BalasHapus
  13. dan aku pun turut tercekat, selamat jalan, yuri....

    BalasHapus
  14. Uwwah Ishmah terharu~

    salam kenal dan followed, sob :)

    BalasHapus
  15. waah boleh juga tuh dijadiin novel

    BalasHapus
  16. meninggal saat melahirkan, mati syahid yaah :)
    ceritanya bagus deh, mengalir dan enak di baca ^^

    BalasHapus
  17. terimakasih atas informasinya sangat bagus sekali

    BalasHapus
  18. Kamu tidak akan mengerti betapa istimewanya arti air mata sebelum kamu benar-benar membiarkannya keluar dari pelupuk matamu dan meleleh di pipimu . .

    BalasHapus
  19. Terkadang kita harus melepaskan seseorang yang kita sayangi........ Bukan kita tak lagi menyayanginya.....tapi karena dia lebih bahagia saat kita melepasnya ?

    BalasHapus
  20. bikin novel aja cin...ni cerita menguras air mata

    BalasHapus