SURAT CINTA UNTUK KAMILA

14 Feb 2016

Di lereng bukit yang tidak sebegitu jauh dari perkampungan. Ada sebuah rumah kuno, besar, dan temboknya sudah mengelupas. Pagarnya pun juga sudah reot termakan rayap. Di salah satu cendela yang selalu terbuka, juga terdapat sarang spiderman yang makin menambah kesan bahwa rumah ini sudah lama ditinggal penghuninya.

Rumah tersebut amat kumuh dan korat-karit. Menurut beberapa orang di kampung, dulu rumah tersebut pernah ditinggali oleh sebuah keluarga harmonis dan elegant. Seorang pengusaha sukses dan seorang bidan sebagai pengurus rumah tangga. Mereka dikaruniai sepasang putri cantik yang lahir kembar. Alangkah bahagianya keluarga tersebut. Hidup serba berkecukupan dan menyenangkan.

Lantas mengapa rumah tersebut menjadi sekumuh dan semenakutkan seperti sekarang ini? Kemanakah orang-orang yang dulu pernah tinggal dirumah ini? Ahh sudahlah.

Kamila, seorang gadis kecil yang cantik, sederhana, namun ramah. Setiap berangkat dan pulang dari sekolah selalu melewati rumah di lereng bukit itu. Dan setiap dia melewati rumah itu matanya tidak pernah berhenti menatap setiap sudut rumah kuno itu. Batinnya selalu penasaran ingin masuk dan melihat-lihat isi rumah itu. Tetapi lagi-lagi dia mesti mengurungkan niatnya karena takut tidak akan bisa kembali.

Suatu saat Kamila melihat seorang perempuan tua yang rambutnya sudah mulai berubah warna. Perempuan ringkih yang parasnya masih terkesan ayu. Perempuan itu sempat menatap Kamila sedikit tersenyum saat pulang dari sekolah. Seketika itu juga Kamila berlari seperti tidak percaya bahwa perempuan itu adalah manusia. Itu pasti hantu, pikir Kamila.

Bruk!!!

“Loh loh nduk, kenapa to?” selidik sang ibu yang heran melihat putrinya tergesa-gesa masuk rumah tanpa memberikan salam. “Pelan-pelan minumnya, sayang” kata ibu mencoba menenangkan.
Kamila memeluk ibunya, sembari mengatur nafas. “Anu, Bu, ada hantu” rengek Kamila. “Kamila takut, Bu” tambahnya.

“Hahaa, Kamila tidak sedang ngelindur kan?” ejek ibunya. “Mosok, siang bolong gini ada hantu, nduk?” ibunya tertawa.

“Benar, Bu. Kamila tidak bohong, ada hantu di rumah kuno itu” ucap Kamila. “Rumah kuno, rumah kuno yang mana?” tanya ibu. “Di desa kita kan banyak rumah kuno” ibu mulai penasaran.

“Itu, Bu. Rumah kuno yang besar di ujung jalan” Kamila memeluk ibunya makin erat. “Tadi Kamila melihat ada hantu perempuan tua disana” tangannya menunjuk ke arah rumah kuno.

Seketika itu Ibu Kamila kaget, lebih kaget dari padanya. “Bu, kok ibu diam? Ibu tau siapa perempuan itu?” selidik Kamila yang penasaran. “Oh, tidak kok nduk. Sudah, tidak ada hantu di siang hari gini” Ibu Kamila melepaskan pelukan putrinya. “Ayo cepat mandi sana, baumu kecut, nduk” ucap ibunya. “Ibu tadi masak sambel tempe kesukaanmu” tambahnya. Kamila mengangguk lantas menuju kamar mandi sesuai perintah ibunya.

Namun ada yang aneh dengan ibu, seperti ada yang disembunyikan dari Kamila mengenai sesosok hantu perempuan itu.

Keesokan harinya Kamila ogah melewati rumah itu. Kamila lebih memilih jalan memutar meskipun jauh. Dia berharap dapat segera melupakan kejadian di rumah tua itu. Namun semakin dilupakan, bayangan perempuan tua itu makin terus dipikirkannya. “Siapa perempuan itu, apa pemilik baru rumah misterius itu?” pikir Kamila.

Dan anehnya semenjak kejadian siang itu, ibu makin sering kelihatan merenung, kadang juga menangis. Pernah suatu saat ku tanya tentang keadaannya yang mungkin sakit atau ada masalah lain. Ibu malah menyuruhku untuk tidak mengkhawatirkannya. “Ibu baik-baik saja kok nduk” begitu saja jawabnya.

Ini tidak bisa dibiarkan, pikir Kamila. Rasa keingintahuan membuat Kamila harus menjadi lebih berani. Akhirnya pada saat berangkat ke sekolah Kamila kembali melewati rumah itu. Di depan pagar Kamila clingak-clinguk mencari perempuan tua yang masih kelihatan ayu itu. Pintu rumah tertutup rapat, hanya cendela di sisi rumah itu yang terbuka. Namun kali ini cendela itu terlihat bersih. Bunga-bunga dan rerumputan juga kelihatan lebih rapi.

Kemana perginya perempuan itu? Mungkinkah dia masih tertidur? Sembari memikirkan segala kemungkinan yang ada. Tiba-tiba ada yang memegang pundak kanan Kamila. Dirabanya tangan itu sembari menoleh ke belakang. Seandainya benar perempuan hantu itu, Kamila sudah siap dengan kuda-kuda beladirinya.

“Assalamualaikum, Kamila. Mau berangkat ke sekolah ya, nak?” benar saja inilah perempuan tua itu. Kali ini dia menatap Kamila dengan senyuman yang sangat manis dan tulus. “I i iya mbah, eh bi. Waalaikumsalam” jawabnya masih dengan perasaan tidak percaya. “Jangan takut, saya bukan hantu. Uhuk uhuk uhuk” perempuan tua itu rupaya sedang sakit. Terlihat sekali dari batuknya yang sudah membuat dadanya sesak. “Pergilah, nanti kau terlambat” perintahnya. Kamila hanya mengangguk lantas pergi.

Kamila sekolah di lembaga pendidikan swasta di kampungnya. Kamila mempunyai banyak teman. Selain terkenal pintar, Kamila juga rendah hati dan tidak pernah sombong. Itulah sebabnya Kamila di sukai oleh banyak teman-temannya.

“Hey, ngelamunin apaan sih?” sapa Rohma. Rohma adalah sahabatnya satu kampung dan satu bangku. “Gak ada apa apa kok, Ma” jawabnya asal. “Aku itu jelas tau kalau kamu sedang memikirkan sesuatu. Eh kita itu sudah berteman sangat lama jadi ayo dong, ceritakan masalahmu. Masak kamu gak percaya sama aku” timpal Rohma panjang lebar. “Sudahlah ayo ke kelas” Kamila pun beranjak keluar dari kantin sekolah, diikuti Rohma yang semakin penasaran dengan tingkah sahabatnya hari ini.

Siang itu Kamila berjalan dengan santainya sepulang dari sekolah. Namun langkah Kamila terhenti. “Itu kan ibu. Kenapa ibu terlihat sangat patuh pada perempuan tua misterius itu? Ada hubungan apa ibu dengan perempuan tua itu?” kali ini Kamila benar-benar di buat bingung oleh keadaan ini.

Sesampainya di rumah, keadaan masih tetap saja seperti biasa. Ibu masih saja selalu melamun dan tidak banyak bicara. Kamila tidak berani untuk lebih jauh bertanya mengenai pertemuannya dengan perempuan tua itu. “Makanlah, lalu istirahat, jangan lupa sholat ya, nduk” perintahnya. Kamila hanya mengangguk dan tersenyum “Baik, bu!”.

Dan seminggu setelah itu, Kamila tidak pernah bertemu lagi dengan perempuan tua misterius itu. Kemana perginya, pikir Kamila. Pagar rumah kuno itu juga sudah di gembok lagi seperti dulu. Ada getaran yang entah mengapa sulit untuk diartikan. Getaran itu antara penasaran dan kerinduan.
Sekonyong-konyong Bu Farida menemui anaknya di sekolah. Dengan rentetan ucapan maaf diiringi air mata. Kamila kecewa namun tak pantas ia lakukan. Kamila ingin marah namun yakin azab akan menimpanya. Perihal secarik kertas yang ia genggam dengan erat. “Kenapa ibu tega melakukan ini semua pada Kamila?” tanya Kamila dalam tangisnya. Bu Farida hanya diam tak sanggup berkata apapun.
"Jakarta, hari ini.

Kamila, anakku.
Jujur, dapat bertemu kembali denganmu adalah kesempatan indah bagi ibu. Maafkan ibu, nak. Kau boleh marah dengan kenyataan ini, sebab itu adalah hakmu sepenuhnya.


Hari ini adalah hari terakhir yang sudah dokter tentukan mengenai hidup ibu. Ibu sudah berusaha menahannya demi kamu, Kamila. Demi melihatmu. Namun maaf, kali ini ibu harus benar-benar menyerah. Ibu sudah tidak kuat lagi hidup bersama penyakit ini, sayang.


Sebenarnya, ibu sudah menunggu saat-saat ini dengan sangat lama. Dimana kami akan bersama-sama melihatmu bahagia melalui surga. Ayahmu dan saudara kembarmu juga pasti sudah menantikan ibu disana. Kau benar-benar mirip dengan Kalima, kakakmu. Seandainya dia masih hidup, mungkin Kalima akan tumbuh secantik dan semanis dirimu.


Rumah, perkebunan, serta aset keluarga sudah ibu konsultasikan dengan pengacara kita. Semoga semuanya dapat kau manfaatkan dengan baik suatu saat nanti.


Hiduplah bahagia bersama Bibi Farida. Beliau sudah berkorban banyak untuk keluarga kita. Jagalah beliau, bahagiakan beliau, sayang. Kami semua mencintaimu.


Ibumu
Rosalina
"

Innalillahi wa innallillahi rojiun. Ibu, kenapa harus secepat ini. Ya Allah jaga keluargaku, hapuskanlah dosa-dosa mereka. Ayah, ibu, kak Kalima, aku juga mencintai kalian.
Read more ...

CINTA FITRI - PENJUAL SOSIS BLEDEK

20 Jan 2016
Jaswan dan Fitri Sosis Bakar Bledek Lapangan Aurora Orora Kecamatan Balung
- Sarapan Dulu Sebelum Jualan -
Balung Kulon. Beginilah keadaan tempat kami tinggal selama kurun waktu setengah tahun terakhir. Disini pula aku akan menjalani hidup yang serba berkecukupan, bersama anak-anakku, juga adik-adikku. Berperan sebagai ibu, istri, dan yang paling sulit adalah berperan sebagai pengatur administrasi keluarga.

Perkenalkan! Namaku Fitri. Perempuan beranak tiga, mereka adalah Ata, Bayu, dan yang ‘ragil’ Rio. Aku pernah hidup penuh kebebasan di Ibu Kota. Dan aku juga pernah menjalani hidup paling mengesankan, saat aku memutuskan untuk hijrah ke sebuah kota yang disebut-sebut punya pasar loak terkenal saat ini. Benar, di Kota Solo-lah aku menemukan laki-laki (sebut : Dito) yang hingga saat ini aku tambatkan segala perasaanku, apapun itu. Disinilah aku mulai belajar hidup dengan mertua. Meskipun hal itu tidak berlangsung lama, karena banyak alasan. Dan pada akhirnya, kami berdua memutuskan untuk memboyong anak-anak kami hidup bersama di desa kecil ini.

Aku cukup bahagia saat ini. Karena mempunyai keluarga yang amat lengkap. Aku dapat melihat langsung perkembangan ke tiga buah hatiku setiap hari. Mereka selalu saja kompak mengganggu jam sibukku saat pagi hari. Yang paling besar minta benerin seragam lah. Yang kecil minta sarapan lah. Dan yang paling gokil adalah anakku yang paling tengah, Bayu. Dia dapat aku kategorikan yang paling ‘ngalem’ diantara yang lain. Hahaa, sudahlah yang penting mereka tidak malas berangkat sekolah.

Oh ya, aku disini juga hidup bersama ke dua orang tuaku dan adik-adikku. Sholeh, Yasin, Fina, dan yang paling muda Umar. Fina dan Umar masih harus sekolah setiap hari. Sementara aku dan kedua adikku yang lain sudah bekerja dan mempunyai kesibukan masing-masing. Sholeh bekerja di cucian motor, dan Yasin mengabdikan dirinya di perusahaan kecil produksi tasbih di sebelah rumah. Dan sementara aku dan suamiku bekerja sebagai Pedagang Kaki Lima (PKL) di Lapangan Aurora Kecamatan Balung. Menjual sosis bakar "BLEDEK" setiap malam hingga tutup di pertengahan malam.
 
Sebenarnya hidup dijalanan seperti ini sangat melelahkan. Namun kembali aku harus semangat, mengingat hanya aku dan suamikulah yang menjadi kepala keluarga. Ibu dan bapakku tidak bekerja karena sudah mulai renta. Aku pun juga tidak tega menarik uang belanja kepada adik-adikku. Menurutku mereka masih perlu menikmati hasil keringatnya sendiri. Walaupun terkadang fikiran itu terlalu metafora bagiku dan suamiku. Hemm, mereka yang tidak faham kondisi, atau kami yang terlalu toleransi [?]. Entahlah, kami hanya mengharap sebuah Hidayah.

Bayangkan! Bagaimana Tuhan mengatur kehidupan keluargaku setiap hari? Hanya aku dan suamiku yang harus siap siaga menjaga alur ekonomi yang kian mencekik orang kecil. Terutama saat harga cabe naik di pasaran. Itu adalah salah satu hal yang dapat membuat kepalaku berputar kian kencang. Mengingat jajananku yang sudah barang pasti memerlukan rasa pedas agar kian 'nyoss' di lidah para konsumen. Bahkan pernah pada suatu hari, aku dan suami bersepakat membatasi setiap pengeluaran sambal di bungkusan sosis kami. Alamak, kami hanya dapat tersenyum meski raut muka kami tak lagi ranum.

Rumahku seakan sudah menjadi arena sepak bola salah satu club kesebelasan. Aku dan suami yang menjadi kiper, orang tuaku backnya, sementara adik-adik dan anak-anakku adalah club lain dengan penendang ulung yang kapan saja dapat menjebol pertahanan gawang kami. Kami hanya dapat berharap, semoga kami tidak KO di tengah pertandingan.

Ada banyak hal yang membuat aku kuat. Salah satunya adalah cinta. Cinta yang pada akhirnya akan membuat keluargaku bahagia. Orang tuaku, termasuk mertuaku, adik-adikku, dan khususnya anak-anakku dan suamiku. Mereka adalah sumber cinta itu. Cinta yang sesungguhnya. Oh Gusti Allah, jaga kami dalam kasihmu.

* * *

Saya mengenal Mbk Fitri dan Om Dito tidak begitu lama. Kami dipertemukan di tempat yang sangat menyenangkan, yaitu di Lapangan Aurora Balung. Kebetulan saya bersama salah satu kakak saudara membuka usaha sederhana di situ. Dan akhirnya kami mulai mengenal hingga dekat selayaknya keluarga.

Dapat mengenal mereka itu hal yang ajaib bagi saya pribadi. Khususnya dekat dengan anak-anaknya yang lucu-lucu. Mereka semua seakan menahan kuat cambukan kehidupan. Saya memang sengaja mengajak Mbk Pit untuk berbagi cerita mengenai kehidupan singkatnya selama ini. Dan aku pun getir mendengarkannya. Hidupnya bagai cerita fiksi namun nyata. Bahkan saya sempat 'termehek-mehek' saat dia menceritakan awal kali memutuskan masa lajangnya.

Namun mereka sadar, semua itu bukan kutukan. Itu semua hanya fase yang suatu saat saya yakin akan menemukan finalnya. Kawan, mari kita bersama berlomba-lomba untuk bersyukur!!!
Read more ...

DANURWENDA, ANAK YANG NAKAL

16 Jun 2014
Dunia anak-anak bagi saya adalah dunia yang menyenangkan. Karena dari masa anak-anak itulah kita akan semakin banyak mengenal proses ingin tahu. Ingin tahu tentang warna. Ingin tahu tentang angka. Ingin tahu tentang jenis kendaraan. Dan masih banyak ke-ingin-tahu-an yang lainnya. Semua itu dapat kita pahami mulai dari saat kita kecil.

Lantas bagaimana peran kita sebagai orang yang lebih paham? Jawabannya jelas. Kita harus membantu mereka untuk mencari tahu. Apa itu? Bagaimana itu? Dan Mengapa begitu?

Kalau kita dapat berperan aktif dalam masa tersebut, dan dapat memberikan bimbingan positif kepada mereka. Maka kemungkinan mereka berkembang lebih baik, akan lebih banyak. Dan sebaliknya. Apabila sedari kecil sang anak sudah terjejali oleh kata-kata dan sentences yang kurang baik. Maka presentase anak tersebut tumbuh lebih buruk akan semakin luas.

Lalu, bagaimana dengan "Anak Nakal"?

Apa pada saat mereka memasuki masa kanak-kanak mereka tidak mendapatkan bimbingan yang lebih positif dari lingkungan terdekatnya?

Jawabannya, mari kita fikirkan bersama.
Danurwenda Anak Yang Nakal, Pacapaku, Imam Sujaswanto, Anak Nakal, Jaswan
Foto Unik Danur Saat Jalan Sehat dan Senam Bersama

Kali ini saya akan bercerita tentang salah satu murid saya yang bernama Danur. Danurwenda nama lengkapnya. Dari perawakannya terlihat sedikit pendek gemuk, cuek, nyantai, juga pemalu. Mungkin itu kesan yang sempat saya tanam dalam hati saya saat mulai berjumpa dengan anak ini.

Namun seiring perjumpaan demi perjumpaan, kesan saya sedikit berubah. Banyak teman-teman satu kelas yang meng-klaim bahwa "Danur adalah anak yang nakal". Benarkah? Mungkin bisa saya benarkan. Danur adalah yang nakal, iya memang demikian keadaannya. Dia sering membuat ulah dan kejahilan-kejahilan yang luar biasa hebat. Baik saya juga teman-teman lain yang membimbing di Rumah Belajar juga sempat kualahan mengatasinya. Bukan hanya jam pelajaran saja, namun pada saat istirahat juga kenakalan Danur meningkat. Bahkan salah satu teman putrinya sempat di buat mewek gara-gara ulahnya. "Owalah Danur, nyidam apa ibumu dulu?" ini yang saya rasakan dalam hati.

Waktu itu saya sedang dalam kelas, mengajar tentang bab Surat Resmi dan Surat Pribadi. Keadaan kelas sangat tenang di beberapa menit pertama saat saya memulai pelajaran ini. Terutama Danur, dia begitu antusias mendengarkan saya berceloteh ria tentang jenis-jenis surat, juga peserta didik yang lain. Buku di buka sedangkan pensil di goyang-goyang dengan tangan kanannya.

Ketika saya mengajar adik-adik saya selalu berusaha seinteraktif mungkin dengan mereka. Tujuannya supaya yang saya ajarkan mengena pada fikiran mereka. Dan sesi penjelasan pun selesai. Kali ini adalah kesempatan bagi adik-adik menulis apa yang sudah saya jelaskan di whiteboard.

Namun, belum selesai saya memberikan perintah, Danur nyolot dengan lantangnya dengan mimik wajah minim dosa. "OMG hellow, oh my to the god, jangan banyak-banyak dong, Kak. Capek tauk!!!!". Anda bisa membayangkan seketika seluruh teman-temannya satu kelas terbahak semuanya. Saya terdiam sejenak. Hati saya bagai di hujam seribu jarum dalam sekali waktu. "Yang lain tetap lanjutkan menulisnya, dan kamu Danur, ikut Kakak ke sekretariat sekarang" begitu jawaban saya selanjutnya.

Itu baru yang pertama. Kali ini cerita kedua. Kami yang ada di IPK memang memberikan waktu istirahat beberapa menit supaya mereka tidak jenuh. Biasanya moment seperti ini sering kami manfaatkan untuk bercengkrama dengan adik-adik, selain sebagian dari mereka ada yang bermain dan jajan jajanan ringan.

Disela kami bercengkrama, dua anak putri berlari ke saya seraya menangis terisak. Setelah saya melakukan introgasi ternyata semuanya adalah ulah Danur lagi. Sebagian pakainnya basah gara-gara di semprot air melalui kran tempat kami biasa ber-wudhu'. Dan semakin jengkelnya saya, seketika Danur menghilang dari tempatnya. Melarikan diri dan tidak mengikuti jam pelajaran ke dua.

Ada sesuatu yang begitu mendonimasi dari Danur. Jelas. Anak yang nakal memang sedikit membuat memory semua orang tetuju padanya. Namun, inilah Danur yang apa adanya. Tampil sederhana dengan penampilan yang serba membuat banyak orang tertarik.

Tapi, sudah beberapa minggu Danur tidak hadir saat kegiatan Rumah Belajar berlangsung. Kemana dia? Setelah ujian semesteran selesai dan memasuki masa libur panjang. Danur tidak muncul. Banyak orang yang merindukannya. Terutama kakak-kakaknya yang membimbing di kelasnya.

Danur, kakak merindukanmu.
Read more ...

WANITA DAN KOPI DI SENJA HARI

12 Mei 2014
Wanita Dan Kopi Di Senja Hari, Jaswan, Pacapaku, Imam Sujaswanto
Aku kembali duduk disini. Bila dua tahun yang lalu aku duduk bersama sahabat-sahabatku dan mulai mengagumimu. Namun, kini tidak lagi. Aku menikmati kopi bersama anak kita, Fitriani. Hari ini masih sama Yur, senja yang menakjupkan. Semenakjupkannya kamu saat mulai tergopoh turun dari dalam mobilmu. Kau cantik sama seperti anak kita. Lihatlah, dia begitu sangat menyukai kopi. Dan aku sangat beruntung memilikinya. Selalu ada secangkir kopi saat aku pergi mengajar. Dan rasanya masih sama dengan buatanmu dulu. Aku masih mencintaimu.

"Ayah, kita pulang yuk. Sebentar lagi Maghrib. Aku ingin mendo'akan Mama Yuri. Agar beliau selalu sabar menunggu kita menemuinya kelak".
Mataku berkaca, memeluk Fitriani erat. Aku mengangguk bangga padanya. Yuri, ini anakmu. Dia amat bangga memilikimu. Meskipun kau tidak disini lagi, melainkan di surga sana.

Budhe Yanik juga turut tersenyum getir. Tangannya mengelus dadanya. Beliau mengelus poni dan lantas memeluk anakku.

-Yuri Amora Trihapsari-

Wanita cantik. Selalu sibuk dengan aktifitasnya setiap hari. Setelah lulus S2 dari perguruan tinggi jurusan kesehatan di Jember, dia melanjutkan perjuangannya di salah satu Rumah Sakit Daerah yang berada cukup jauh dari jarak kota tempatnya berkuliah dulu. Dia memproklamirkan hidupnya untuk membantu orang lain, juga berniat mencukupi hidup kedua adik dan seorang ibunya. Kehidupan telah menjadikannya wanita pekerja keras setelah di tinggal ayah tercintanya satu tahun yang lalu. Dia gadis yang tangguh, meski yatim.

-Doni Maulana-

Bujangan berbadan gemuk. Gemar sekali minum kopi. Berkumpul, dan bercengkrama dengan para sahabatnya adalah aktifitas yang setiap hari dilakukannya, tentu setelah mengajar sukarela anak-anak sekolah dasar di desanya. Dia sosok yang telaten, terlihat sekali dari caranya menuruti setiap rengekan murid-muridnya saat bimbingan belajar berlangsung. Dia juga cukup punya banyak ilmu untuk bercerita, bahkan sahabat-sahabatnya mengakui keunggulan salah satu sahabatnya ini. Mungkin setiap harinya kamuslah yang menjadi menu sarapan hingga makan malam. Dan ini yang membuat murid-muridnya betah berlama-lama belajar sambil mendengarkan sosoknya berceloteh.

~0~

Saat aku duduk manis bersama para sahabatku di warung kopi. Sebuah mobil chery hitam berhenti tepat di depan kami. Tidak membutuhkan waktu lama untuk membuat sopirnya keluar. Dan benar dalam hitungan detik pintu mobil itu terbuka oleh dorongan sopirnya. Mata para sahabatku melotot tajam, fokus dengan kejadian di luar warung. Seorang wanita berseragam rapi keluar dari dalam mobil. Namun aku biasa saja. Agaknya dia adalah salah satu pegawai bank ternama di Indonesia bila di lihat dari dandanannya. Sepatu high heels hitam dan make up wajahnya yang sedikit tebal dan menor.

Ke tiga sahabatku masih saja terpana oleh wanita itu. Hampir tak berkedip. Kuhentak meja warung, seraya mereka menoleh dan mendorong pundakku, "ganggu ae kowe le" protes mereka. Hatiku tertawa kecil melihat sikap mereka. Ku rasa mereka terlalu awam untuk sekedar melihat wanita yang tampak seperti Luna Maya itu. Hatiku kembali tertawa kecil.

Yuri turun dari mobilnya dengan tergesa. Masuk warung dan meraih plastik di centelan. Di bungkusnya pisang goreng tanpa melirik sedikitpun ke arah kami yang sedang asik mencicipi kopi pahit buatan Budhe Yanik sang pemilik warung. Sedangkan ketiga sahabatku masih saya nggerundel dalam hatinya seraya cekikikan. Tingkah mereka makin membuat aku parno dan kepo. Gila, gumamku dalam hati.

"Seperti biasa ya mak!" wanita itu mengeluarkan lima lembar pecahan dua ribuan, dan menyodorkannya ke Budhe Yanik. "Iyo ndok, kesuwun" jawab Budhe Yanik dengan ramahnya.

Rupanya budhe cukup mengenal baik wanita cantik ini, gumamku dalam hati. Sepertinya aku harus mengakui kalau dia cantik. Iya cantik dari sisi luar saja, dan tanpa aku mengetahui hatinya seperti apa, masa bodohlah.

Didorongnya perseneling, dan mobil itu melaju setelah sang sopir menekan pedal gasnya. Seketika mobil itu lenyap dari pandangan, dan aku masih terpaku melihatnya.

Kopi kami tinggal ampas, dan kami menyudahi ngopi kali ini. Tentunya ngopi ini cukup berbeda, karena sosok wanita manis itu tadi yang sampai sekarang belum aku ketahui namanya dan apa pekerjaannya.

Kami keluar warung. Sementara aku masih di dalam warung untuk menyelesaikan administrasi pembayaran yang sudah kita lahap sedari tadi. "Sesok, ngopi maneh rek! Ben ketemu mbk ayu iku mau, jan tok cer poko'e" salah satu sahabatku memberikan saran yang bagiku itu cukup konyol untuk di dengar. Mereka keluar beriringan dan aku masih menunggu budhe menghitung uang kembalian kami.
"Seng betho mobil niku wu sinten dhe?" dan rupanya aku cukup penasaran dengan wanita itu. Budhe Yanik mesem seraya memberikan uang receh.
"Bidan le, iki kerjo nang RSUD!" tangan Budhe Yanik menunjuk arah rumah sakit yang sebenarnya akupun sudah tau rumah sakit itu. "Hayoo, kesengsem yo?" Budhe Yanik meledek.
"Opo to yo budhe iki, kulo wangsul dhe" protesku lantas aku bergegas menyusul sahabat-sahabatku.

Malamnya aku sulit untuk terlelap, terutama setelah kejadian tadi siang di warung kopi. Wanita itu terus membayangi fikiranku. Ku tarik laci kamar tidurku. Kuambil amplop di dalamnya dan mulai ku baca secara seksama. Surat Keputusan Dinas. Yuri Amora Trihapsari. Umurnya masih 26 tahun, lebih muda dariku setahun. Aku tau ini surat penting, namun karena begitu cerobohnya wanita itu tak terasa surat ini jatuh saat beranjak dari warung Budhe Yanik. Aku harus mengembalikannya besok. Ku rasa ini sangat penting untuknya juga pekerjaannya.

Pagi hari di rumah sakit. Terlihat sekali ruangan besar ini penuh dengan orang-orang berpenyakitan. Aku sedikit muak. Kalau saja aku tidak merasa bertanggung jawab mengembalikan amplop ini, aku tidak mungkin mau berada di sini.

Aku mendekat di lobi, bertanya dengan salah satu penjaga lobi yang juga berpakaian sama dengan wanita itu kemarin. "Saya mau bertemu dengan Yuri. Yuri Amora Trihapsari, dimana ruangannya mbk?" sapaku. "Lurus saja mas, lalu belok kiri, ada tangga menuju lantai dua. Dan ruangan Bu Yuri tepat di muka tangga" jawab penjaga lobi seraya memperagakan tangannya seperti dalang. "Baiklah terima kasih" lanjutku dan segera bergegas menuju ruangan gadis itu, Yuri maksudku.

Ku ucap salam seraya mengetok pintu ruangan bertuliskan namanya. "Masuk!!!" jawabnya dari dalam. Aku tak pandai mengartikan detak jantungku, tiba-tiba saja aku kikuk memasuki ruangan ini. Berdebar lebih kencang, dan semakin kencang setelah wanita berambut lurus sebahu itu tersenyum dan mempersilahkan aku duduk tepat di depan matanya yang dalam. Dan benar saja wanita ini memang cantik. Aku kembali terpana kedua kalinya. Dan sepertinya aku mulai menyukainya.

~ Seminggu Setelahnya ~

Aku tidak tau kenapa aku ingin berpenampilan semenarik mungkin di depannya. Baju yang biasa aku pakek aku semprot parfum sebanyak-banyaknya. Ku raih jaket kulitku. Tshit ku juga masih baru dua hari yang lalu aku beli di salah satu supermarket. Ku starter motorku dan aku siap berangkat menemuinya dan mengajaknya jalan. Ini pertama kali aku kencan dengannya. Aku harap ini memang kencan. Dengan Yuri.

Seminggu setelah ku kembalikan amplop itu, Yuri menjadi semakin ramah denganku. Aku berhasil mendapatkan nomor ponsel dan alamat rumahnya. Dan aku menjadi semakin gila di buatnya. Aku semakin sering senyum-senyum sendiri saat membalas sms-nya. Dan ini membuat sahabat-sahabatku merasa kalah telak denganku.

Seharusnya aku tidak perlu berdandan seheboh ini bila Yuri memilih kencan di warung Budhe Yanik. Seleranya payah. Namun dia memang sosok yang sederhana, tidak neko-neko. Dan dia semakin terlihat cantik. "Wah wah wah sudah pacaran to le?" ledek budhe, aku tak menjawab dan hanya tersenyum kepada budhe. "Emangnya mboten angsal to mak?" sahut Yuri seraya mengedipkan matanya. Dan ini mampu membuatku girang juga malu. Budhe dan Yuri akhirnya tersenyum lebar.

"Aku mau tanya sama kamu tapi jangan marah ya?" matanya memang benar-benar indah. Dan aku mengangguk. "Apa yang membuatmu menyukaiku?"
"Matamu, yang membuatmu semakin cantik. Dan aku menyukai itu Yur" ku teguk kopiku yang mulai terlihat tak menguap.
"Apa kau berniat tulus denganku, Don? Apa ini tidak terlalu cepat untuk kau putuskan? Kau belum mengenalku lebih jau, siapa dan bagaimana aku?" rautnya berubah serius namun matanya tetap tajam dan sejuk.
"Tidak perlu!!!" tandasku. "Karena aku sudah sangat yakin, bahwa kau mampu membuatku merasa nyaman di dekatku" lanjutku tegas.

~ Setahun Berlalu ~

Jantungku berdetak kencang. Lebih kencang dari pada saat aku pertama bertemu dengan gadis di sampingku ini. Kini kita dalam situasi yang sama. Kepala kami di balut dengan selendang putih bemotif batik. Sementara tanganku masih menjabat seorang di depan kami. "Saya terima nikahnya Yuri Amora Trihapsari . . . . . . ". Semuanya berubah hikmat, ku lihat Yuri bercikutat dengan air matanya. Namun ini air mata kebahagiaan. Begitu pula denganku. Duduk sungkem di depan orang tua dan mertuaku satu-satunya. Kami direstui menikah.

~0~

Telponku berdering di mejaku. Anak-anak masih dalam jam istirahat setelah jam pertama selesai. "Assalamualaikum buk" sapaku sopan, "Waalaikumussalam, le cepetan berangkat nang RSUD yo!!! Saiki pokok'e. Anakmu arep lahir" jawab ibu mertuaku dengan nada serius. Aku merasakan perasaan yang luar biasa hebat, aku yakin ini perasaan bahagia. Sebentar lagi aku jadi bapak. "Injih bu. Assalamualaikum". Aku tutup telponku, dan aku bersiap-siap.

Anak-anak aku pulangkan, dan mereka mengerti alasanku. Segera ku pacu motorku lebih cepat. Aku tidak mau bila sedikitpun terlambat. Yuri, tunggu aku, gumamku dalam hati.

Setelah ku parkir motorku, segera aku berlari menuju ruang bersalin. Orang tua dan mertuaku menyambutku dengan senyuman bangga namun matanya sedikit berkaca. Bukahkan seharusnya mereka tersenyum bangga denganku? Karena sebentar lagi mereka akan mempunyai seorang cucu. Ku lihat ayahku sedari tadi diam. Sementara ibu dan mertuaku nyata-nyata menangis di depanku. Apa yang sebenarnya terjadi?

Aku memaksa masuk ke ruang bersalin. Seorang dokter spesialin kandungan datang menemuiku. Aku sudah mengenalnya, Dokter Dina Pamuji. Beliau menjabat tanganku "Selamat ya pak, sekarang bapak sudah punya anak. Namun . . . " Dokter Dina berhenti berbicara lantas memelukku.
"Ada apa dok? Bagaimana dengan anakku? Yuri baik-baik saja kan?" tanyaku memaksa.
"Anak bapak cantik dan juga sehat. Namun, maaf kami sudah berusaha semaksimal mungkin. Ibu Yuri, tidak tertolong" hatiku bagai di hantam seribu batu besar. Aku lunglai di depan jasad Yuri, istriku. Air mataku membuncah seketika, dan kepedihanku semakin pilu saat suster memberikan anakku yang baru terlahir. Di juga cantik, sama seperti ibunya.

~ Tamat ~
Read more ...

MULAI HOBBY HINGGA MENJADI PILIHAN HIDUP

1 Mei 2014
Hobby dan pilihan hidup, Jaswan, Pacapaku, Imam Sujaswanto

Saya kurang begitu hafal, kapan tepatnya saya mulai menulis? Ketertarikan pertama yang dulu sempat saya sandang adalah, menulis itu sesuatu yang mengasikkan. Iya, saya mulai enjoy menikmati sensasi ini adalah ketika saya (merasa) terkurangi beban masalah saya saat saya menuliskannya ke dalam buku harian. Aneh memang, namun inilah saya. Saya berfikir tidak semua masalah harus kita curhatkan kepada orang lain. Terlebih bila masalah itu sangat sekali sensitive dan membutuhkan privasi.

Jatuh cinta dengan media buku harian memang tidak membutuhkan waktu lama. Setiap malam saya selalu berusaha mengingat dan merangkumnya kedalam buku harian tersebut. Dan luar biasanya lagi, saya sangat menikmati. Ada perasaan lega setelah menuliskannya.

Namun diawal sejarah saya memasuki masa remaja, saya mencobanya dengan media lain. Saya cukup berani mengambil resiko bahwa apapun cerita saya tidak harus saya simpan sendiri. Saya ingin sekali orang lain di luar sana tau bahwa saya, seorang lelaki sederhana, masih dapat membuat cerita dan melukis sejarah. Ternyata saya membutuhkan orang lain untuk sekedar memberikan nasihat dan apresiasi.

Hingga akhirnya, saya dikenalkan oleh salah satu sahabat, sebuah media yang sangat menarik. Dan hingga kini media tersebut masih tetap saya isi dengan berbagai macam cerita saya pribadi maupun yang lainnya. Media tersebut tidak lain adalah yang sedang Anda baca kali ini. Iya benar, blogspot.

Saya tertarik sekali dengan blogspot karena fiturnya yang tidaklah membingungkan. Tampilannya juga fleksible dan tidak ruwet untuk seorang awam seperti saya sekalipun. Dengan catatan kita sebagai penggunanya mampu dan siap memanfaatkan media tersebut dengan baik.

Ketika masih duduk di bangku SMK dahulu, saya memang bukanlah seorang penulis handal (baca : belum). Dan saat banyak orang lain bertanya apa hoby dan kegemaranku [?] Saya selalu menjawabnya dengan beragam kata; menulis; membaca; dan menggambar. Walaupun pada kenyataannya gambar saya tidak karuan dan tidak pernah mendapatkan nilai bagus untuk pelajaran seni. Sedangkan kalau urusan tulis menulis, banyak orang yang beranggapan tulisan saya bagus. Dan membaca, memang tidak ada masalah, saya cukup lancar dalam membaca sebuah tulisan. Ahh masa bodoh, yang paling penting adalah saya dapat berkreasi semampu dan sebisa saya.

Hoby? Iya, saya menulis karena awalnya saya memang hoby sekali menulis. Bahkan yang perlu sahabat semua tahu. Sejak saat saya duduk dibangku SD tingkat IV saya sudah cukup percaya diri menulis di papan tulis. Dan akhirnya ini menjadi kesempatan yang bagus untuk guru-guru yang malas menuliskan pelajarannya. Hehee tidak ya, itu semua hoax saja kok rek. Namun, inilah saya yang selalu penuh percaya diri.

Kebiasaan menulis di papan tulis itulah hingga sampai di usia SMP mayoritas guru-guru saya selalu menjuluki saya sebagai sekretaris kelas. Nama saya selalu menjadi special di buku absensi. Ini penting sahabat, karena menjadi sekretaris kelas itu dapat membuat kita menjadi terkenal. Berasa jadi artis di sekolah. Hahay.

Kembali ke media online. Saya sangat berterima kasih sekali dengan blog sederhana ini. Karena jujur saja dari sini juga saya banyak mengenal kalian para sahabatku. Blog ini juga banyak menyumbang koleksi buku-buku novel dan cerpen-cerpen pilihan yang sudah tidak dapat di hitung berapa banyak jumlahnya. Saya masih ingat sekali, betapa sangat membahagiakan rasanya ketika pertama kali salah satu tulisan saya di blog ini yang sempat saya submit ke dalam daftar peserta GA Mbk Ayuningtias dulu meraih prestasi. Walaupun bukan jawara pertama, namun sensasinya mampu membuat saya terus produktif menulis di blog ini. Dan alhamdulillah google akhirnya rela memberikan reward page rank 1 untuk blog  bernuansa adem ini.

Blog ini juga banyak mengajari saya tentang bagaimana cara menulis yang baik, dan semakin baik. Mengenal banyak sahabat dan belajar banyak dengan artikel-artikel sahabat yang lain ketika blogwallking. Itu rasanya bahagia sekali.

Dan kini, menulis bukanlah sekedar hoby. Menulis adalah pilihan hidup yang harus terus konsisten saya jalani. Berawal dari hoby dan kini menjadi pilihan hidup. Saya harus yakin bahwa dari sinilah masa depan saya akan semakin tertata baik. Insyaallah.

Saya berharap juga untuk sahabat-sahabat yang lain, semoga mempunyai tekad yang kuat sama seperti saya. Saya yakin apabila kita mau berusaha dengan giat dan terus berdo’a. Bukan hanya saya, melainkan kita akan mampu mewujudkan cita-cita tersebut bersama-sama. Cita-cita yang akan membuat kita abadi dengan karya-karya kita.

Kini menjadi penulis yang berkualitas dan bermanfaat adalah cita-cita dan pilihan hidup. Cita-cita dan pilihan hidup yang harus terus saya perjuangkan.
Read more ...