LAGU UNTUKMU - JAFAR

12 Jan 2013
Malam kemarin, sepanjang kepulanganku dari kantor fikiranku sering terhinggapi perasaan bersalah. Fikiranku tiba tiba kembali ke masa lalu, iya dengan wanita bernama FARIDATUL HASANAH itu. Memaksa untuk tetap mengingat kejadian dua tahun silam saat hati ini masih merdeka bersama seorang gadis desa yang cantik berambut panjang bergelombang dan sedikit poni di depan kepala hingga pundaknya. Selama ini bunga itu sudah coba untuk ku remove dari peredaran darah yang mengalir di otak yang kerap kali mengingatkan ke suasana itu. Namun, tetap tidak bisa. Ada apa ini ??? buatku heran hingga tak terasa lampu halaman rumah sudah tepat berada dihadapan dua mata. Gemuruh suara adzan magrib juga sudah mulai bersalip salipan menyapa umat. Segera ku ambil handuk warna ungu idaman, pergiku membersihkan diri sambil tetap memikirkan bunga melati itu.

Kalau teringat 31 Januari 2011 lalu di buku harianku pernah ku menjeritkan kisah sedih suasana kelabu saat itu saat ini akan kembali ku mencobanya untuk tidak mengingat bahkan menutup semua tulisan tulisan itu dari fikiranku. Di waktu itulah hubunganku kandas lewat sebuah keegoisan. Padahal sebagai pria yang merasa punya cinta dan kasih sayang semua prahara itu sempat coba ku tolak dengan sebisa mungkin ku pertahankan. Namun, entah kenapa usahaku yang mungkin basi dan omong kosong itu di pupuskan sudah olehnya. Laksana lebah yang kehilangan tempat berkasih sayang, karena tiada lagi bunga yang besedia menerimaku apa adanya bukan ada apanya.

Bunga itu sudah tidak ada dan bahkan hilang entah dimana, tidak lama kemudian tiba tiba telinga ini mendengar kasih sayangmu sudah kau bagi dengan orang lain. Mungkin itu sebuah kata ingkar dari janji janji manis yang pernah ku dengar. Semua yang menjadi saksi kasih sayangmu padaku yang tidak akan pupus namun ternyata dirimu jugalah yang mengingkari. Mungkin bagimu bukan kata susah lagi melupakan hal manis itu namun bagiku melupakan itu bagai mencari sayap emas yang entah kau buang dimana rimbanya yang membuat seekor merpati sulit untuk kembali bebas terbang di angkasa.



“apa kamu sudah mulai melupakan aku?, jujur dari sekian banyak hari yang kujalani tanpa canda tawamu membuat aku tak kuasa menahan gejolak bercampur kesalahan ini terus menyertaiku. Sayang sudah lama bersemayam di hati ini sulit ku hilangkan. Angin, hujan, dingin, panas, dan tidur selalu mengingatkanmu. Jangan menjadikan diri lebih munafik, kamu juga merasakan hal yang sama kan?” ini pesan singkat yang sempat masuk di inboxnya dan terkirim sukses di ponselku waktu itu. Pesan itu mendapat balasan “kenapa kamu merasa bersalah, dalam masalah ini aku yang bersalah. Tapi aku tidak bisa rasanya kembali seperti dulu, karena aku tidak baik buat kamu, lagian kamu sudah benci banget ke aku” aku coba untuk kembali merespon pesan singkat itu “siapa yang bisa marahan lama lama sama kamu, terserah apa yang kamu bilang tidak baiklah buat aku, tapi yang penting kamu masih cinta kan sama aku?” tersendat rasanya nafas ini ketika sms itu di balasnya dengan satu huruf singkat yang membuat aku sulit untuk bernafas karena terkejut dan tidak percaya “g (nggak)” sebagai pria yang menghormati cinta dan pantang menyerah, sekali lagi saya coba untuk mempertahankan “tapi kamu masih cinta kan kepadaku?” sms itu mungkin sikap tegas namun terus lagi lagi jawaban naas yang ku dapat “terus kate opo? Gak ileng seng di omongno sampean kapan hari ndek aku, sakit hatiku mas sampek aku rasain hingga sekarang, dan kamu masih bilang cinta sama aku?” karena keinginan besar itu kembali sms itu kembali saya coba untuk membalasnya “ sudahlah sayang, jangan sok mendustai hatimu dengan bilang tidak lagi sayang kepadaku. Mumpung kita belum terlalu dalam larut di masalah ini. Setidaknya kisah cinta ini bisa berlanjut lebih lama lagi. Biarkan JAFAR (jaz-farida) tetap berlayar disamudra cinta kita. Sekarang aku minta maaf atas semua khilaf ini. Apakah kamu mau untuk memaafkan kesalahanku yang besar ini kepadamu?” obrolan itu masih berlangsung lama hingga kita sama sama bertekat untuk membuyarkan semuanya.



Mungkin hanya ucapan terimakasih yang bisa diucapkan karena banyak waktu yang terbuang sia sia hanya untuk sekedar menemani walau itu saat suasana duka sekalipun. Dia memang wanita pertama yang membuatku begitu bersemangat untuk menjalankan hubungan yang bukan hanya sekedar hubungan cinta monyet. Karena dia jugalah aku berani terang terangan mengungkap rahasia hubungan ini dari semua orang yang menyayangiku termasuk mama dan ayahku. Namun itu semua hanya mimpi, yang hanya bisa jadi cerita pahit yang tak ingin ku ungkap dan ceritakan lagi kepada semua orang. Mengubur impian untuk tetap menjadikan dia ibu dari anak anakku.

Terimaksih manis. Jaga cinta kita.

3 komentar:

  1. Kuhanya tak mau terpenjara kenangan.. :P

    Cuma soal ketegasan hati saja, pilh SEKARANG atau MASA SILAM

    BalasHapus
  2. walau sebenarnya sulit
    bissmillah, saya akan mencobanya uncle
    trimakasih

    BalasHapus
  3. Kayaknya seorang yang sangat berharga sekali yaa waktu itu..
    Mudah2an kalau itu memang bukan jodoh.. pasti akan datang yang lebih baik Mas.. :-)

    BalasHapus