RAWON KM JEMBER - SURABAYA

17 Mei 2013


Aku diam tanpa bicara, saat kau dekap aku dalam hangatnya gendonganmu. Kau belai lembut keningku sembari kau rangkul aku dalam dekapan selimut panjang itu. Dan ketika kereta itu berhenti, kau berlari, kau melangkah diantara ratusan penumpang lainnya. Kau mengangkat satu kakimu sementara kedua tanganmu memegang daun pintu gerbong yang dikemudikan oleh Marinir bertubuh tegap berdiri di ujungnya. "Mama, kau pasti lelah" itu yang ada di benakku, dan kau mengusap lelah ujung hidungmu yang mulai berkeringat. Namun maafkan aku Mama, aku masih terlalu gagap untuk bicara dengan lancar. Bahkan naik kereta api ini pun aku masih sangat tergantung kepadamu.

Petugas stasiun mengangkat tangannya sambil melambai-lambaikan benda bundar hijau. Memberi isyarat kepada Pak Marinir untuk segera melajukan keretanya. Dan kereta api itupun berjalan secara hati-hati. Kau meletakkanku dikursi, melepas gendongan itu, dan melambai mengucap sayonara pada kota kecil Jember. Aku masih ingat saat kau mulai mengajariku lagu Naik Kereta Api karya AT Mahmud. Aku tersenyum. Mungkin aku bahagia?, karena dia menyanyikannya dengan amat lucu, mengepak-ngepakkan tangannya, dan sedikit membenahi kerpus penutup kepala yang ujungnya bundar besar seperti Bakso. Mama, aku mencintaimu. Lastas aku terlelap.

 Dan aku merasa ada yang mengganggu lelapku ditengah perjalanan dari Jember menuju Wonokromo. Aroma masakan yang rasanya nikmat sekali. Aku ingin sekali merasakan masakan yang aromanya berhasil membangunkanku dari saat lelap tadi. Dan aku mulai marah saat Mamaku membantah rengekanku. "Itu pahit nak". Aku menangis, menarik-narik kain gendong, membuang kepus kepalaku, dan memukul-mukul kecil tangan Mamaku. Aku menangis semakin kencang, bahkan aku menjerit, dan berharap semoga orang yang ada dihadapanku mengalah.

Dia meraih travel bag-nya, mengambil uang dari dompet hitam di dalamnya. Dan aku mulai berhenti dari tangisanku. Aku mulai mencicipi dan memakannya sedikit. "Ahh Mama, kau bohong". Justru makanan ini nikmat sekali, aroma daging dan kuahnya harum nan lezat. Aku suka sekali. "Ini namanya Rawon nak"  lalu dia membetulkan anak rambutku yang berantakan dan kembali memasangkan cerpus corak biru putih di kepalaku.

Rawon adalah sebuah masakan yang berasal dari Jawa Timur. Kuliner yang satu ini memiliki rasa yang sedikit pedas. Selain aromanya yang menggugah selera, Rawon juga disajikan dengan aneka daging di dalamnya. Cara membuatnyapun sangat mudah, masak terlebih dahulu daging dengan serai, lengkuas, daun salam, dan daun jeruk agar aromanya sedap. Lalu tumis daun bawang dengan ketumbar, kemiri, bawah putih dan merah serta Keluwak. Sambil menunggu tumisan selesai angkat daging yang di masak tadi dan potong-potong, usahakan jangan terlalu besar agar dagingnya terasa gurih. Setelah tumisan bumbu-bumbu selesai, angkat. Dan jadikan satu dengan kuah atau kaldu daging tadi. Tunggu hingga mendidih.

Kawan, itulah saya. Saya sering di ajak naik kereta api dari Jember ke Surabaya, bahkan sebaliknya. Ada cerita lucu. Ketika kecil saya sering sakit-sakitan. Aneh karena obat apapun tidak manjur mengobati sakit yang saya derita. Obatnya hanya satu. Apabila saya sedang berada di Surabaya maka obat mujarap yang bisa menyembuhkan saya adalah naik kereta api ke Jember, dan sebaliknya, saat saya sakit di Jember maka saya hanya akan sembuh ketika saya pulang ke Surabaya dengan syarat naik kereta api. Dan yang membuat Mamaku jengkel. Nasi bercampur Rawon lah yang selalu saya minta.

Di Jember saya punya nenek yang sangat menyayangiku. Namun enam tahun lalu beliau harus ikhlas berpisah dengan keluarganya. Nenek saya meninggal karena Serangan Jantung yang menyakitkan. Beliau pandai sekali memasak Rawon. Walaupun kini aku tidak bisa merasakannya lagi. Sejak saat itu aku dan Mamaku tinggal menetap di Jember. Mengenang beliau, mengenang aroma Rawon yang lezat buatan beliau enam tahun lalu. "Nenek aku merindukanmu, merindukan Rawon buatanmu".

“Tulisan ini diikutsertakan pada Giveaway Cerita di Balik Aroma yang diadakan oleh Kakaakin”

22 komentar:

  1. rawon ada di salah satu dftar mkanan favoritku loh :D
    selamat berlomba mas :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terimakasih Putri atas kunjungannya.

      Tetapi jangan banyak banyak lo ya?

      Inget yang belum makan.

      Heheeeee..

      Hapus
    2. haha , siiip deh
      ditunggu kunjungan baliknya mas :D

      Hapus
  2. Rawoooon, awalnya aku tidak begitu suka karena warnanya *namun perlahan karena sering disuguhi menu rawon, ya....sukses habis dah dalam semangkuk. Terakhir meeting kantor, Selasa lalu, Rawon, telur asin sama tempe goreng, Waaah....Maknyus, sukses yoo

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya Mbk. Kalau tambah telur asin tambah enak tuh Mbk.
      Apalagi dimakan pas sore hari. Tambah nyaman mbk.

      Terimakasih kunjungannya

      Hapus
  3. Sip..! Semoga sukses GA-nya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terimakasih ya Mas.

      Sampean memang abang terbaik saya.

      Hapus
  4. Rawon, iki lek seng kambing nambah awak anget (Y)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Berarti juga sering makan Rawon dong.

      Memang rasanya hangat begitu mas. Mungkin Itu kandungan daging kambing itu sendiri.

      Terimakasih

      Hapus
  5. hikkzz...sedih bacanya.
    mga menang yaaa ;-)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Mimi.

      Terimakasih spiritnya ya.

      Hapus
  6. hikkzz...sedih bacanya.
    mga menang yaaa ;-)

    BalasHapus
  7. Saya juga termasuk orang yang cinta dengan masakan nenek hehehe dan
    yang selalu saya rindukan adalah sambel buatan nenek :D

    Sukses ya GA-nya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terimakasih Mbk.

      Memang sosok nenek buat kita sangat berarti.

      Hapus
  8. Ah.. rawon, salah satu makanan yang sangat kurindukan... *balada diet...

    Terima kasih sudah ikutan pada GA Cerita di Balik Aroma ya. SUdah terdaftar sebagai peserta :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terimakasih Tante.

      Berarti sudah di stempel ya.

      Hapus
  9. Hmmm...fotonya itu loh menggodaku...makanan" di daerah sana tuh enak2 ya..tapi saya belum pernah ke Jember, ke Surabaya pun baru sekali hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Jember memang sesuai dengan masyarakatnya Mbk (suka makan), maka dari itu disini banyak sekali kulinernya.

      Terimakasih

      Hapus
  10. Kok "sopir" kereta api namanya marinir? Bukannya masinis ya?

    Semoga menang dengan GAnya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya ketika kecil sulit sekali menyebut nama sopir kereta itu bunda, jadi suka salahnya kebawa sampai sekarang

      heheheeeee (*ngeles)

      Hapus
  11. Lek se' pingin rawon, silahkan berkunjung nang Omah Jember, disana ada Rawon, Pecel dan Nasi Campur, soale Emakku seng dodolan, Mas :D

    Matur nuwun partisipasinya, Mas, sudah tercatat sebagai peserta :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ahh sampean promosi ya kang.

      Nanti kalau ada kesempatan tak cicipi ya

      Maturnuwun sudah di stempel sebagai peserta

      Hapus