DEMI JANJIKU PADAMU

14 Mei 2013
Dibawah rinai rembulan malam kini kutemukan sebuah ketenangan yang amat lekat. Desir sang angin yang berkelebat kian menambah suasana malam ini menjadi begitu serasa dinginnya. Hingga pikiranku terpatok pada kenangan masa silam dulu. Karena saat itu begitu teramat indah dirimu bagiku.

Kamu, sosok yang mengajarikanku keindahan, kesepian, juga kenikmatan. Bahkan suaramu bak semerdu gitar yang menebar lantunan merdu dari cerobong lubang dan tegang senar-senarnya. Sekarang, aku hanya bisa memandang lekuk indah pesonamu lewat mimpiku. Kasih, dimana kiranya dirimu berada?, aku sangat merindukan ketika tangan lembutmu membelai ringan separuh wajahku.



Ingatkah?. Saat aku berucap kalimat ungkapan kejujuran dulu. Dan tegas kau membantah dengan nada menggetarkan hati. Namun apapun itu, penolakanmu tetap seperti lambaian tangan yang seakan memanggilku untuk tetap mendekat dan terus mengejarmu. Harus benar kusadari, sikap cuekmu adalah semangat tinggiku untuk terus mencoba dan mengejar demi menadapatkanmu.

Hingga suatu hari. Mendung pekat menyerang langit-langit tempat kita tinggal. Gulungan petir itu serasa mengumumkan hujan lebat akan segera turun. Dan benar, gerimis kecil disertai angin siang itu kian lama kian membesar menimbulkan genangan air di mana-mana.

Makan siangku tersendat. Aku teringat sesuatu, teringat bahwa hari ini aku ada janji bertemu dengannya. Kubaca sekali lagi pesan singkat yang kemarin sempat dikirimkannya ke ponselku. Astaga. Ternyata benar, hari ini aku memang sedang berjanji mengajaknya jalan-jalan. Segera kupungkasi acara makan siangku. Tanpa basa-basi kupacu sepeda motorku, dengan amat tergesa kulawan hujan, kusikat jalanan dengan jas hujan abu-abu, dan terjang genangan air di jalanan. Ku keluarkan ponsel yang sengaja ku bungkus dengan plastik bekas gula. Dan kuketik dengan singkat "mluncur", yah semoga dengan satu kata itu mampu menghapus kecerobohanku. Pesan singkat itu melaju cepat, sama denganku yang semakin keras juga menunggangi sepeda motorku.

Tragis sekali nasibku, hujan deras yang berlangsung beberapa menit yang lalu membuat seluruh badanku bagai di tusuk jarum suntik. Dingin yang amat sangat menyayat badanku. Seluruh jemari tanganku mengerut bertingkat-tingkat. wajahku pucat bak mayat hidup yang sedang berjalan. Ya, aku hampir sampai di tempat itu. Tempat yang nyaman, elok, nan hijau ini. Aku berjalan setengah berlari menuju puncak itu, puncak bukit yang basah di tengah rinai rintik hujan yang mulai lelah.


Dipuncak bukit inilah aku saat pertama melihat manis kelopak matamu, saat pertama juga aku diam-diam tergelitik senyum melihatmu anggun memasak mie instan untukku. Aku bagaikan seorang pendekar yang terpesona oleh bidadari-bidadari langit yang turun bumi untuk merasakan segarnya air danau. Dan kau semakin kian cantik ketika lentik jemarimu memainkan anak-anak rambut di dahimu. Dan desir angin itu seakan berkompromi denganku, dia semakin nakal mengacak-ngacak rambut panjangmu.Sehingga kau semakin kesal, mengikat paksa rambutmu menjadi satu ikatan manis menghias mahkotamu.

Aku masih berlari mencari jalan pintas menuju tempatmu bersandar. Bahkan aku tak menghiraukan saat semak-semak berduri melukai kakiku. Sakit ini tak aku rasakan, dan dingin takku hiraukan. Tiba-tiba aku jatuh karena kerikil batu bercampur tanah menggodaku, dia sangat licin. Telapak kakiku mengalir darah, perih dan sakit. Namun lagi-lagi tak kuhiraukan hal itu. Demi senyum manis diatas sana.

Aku melambai sedikit berteriak. Tak kusangka dia berlari lantas mendekapku erat. Memukul-mukul manja pundakku. Lantas menangis dengan lirihnya. Isakan yang kudengar sekarang adalah ungkapan perhatian pertama dari seorang bidadari ini. Dan aku pun tersenyum melepas pelukanmu. Ada rindu yang termaafkan saat itu. Ada rasa bahagia yang kurasa. Kembali ku ulang kalimat indah dulu, saat aku ingin sekali mendekat dan memiliki hatimu. Dan dia mengangguk, yang berarti itu sebuah sikap menerima. Dia yang telah memiliki hatiku dan aku yang juga sedang memiliki hatimu. Semoga selamanya.



Hujan itu berhenti, walau sesekali airnya pun masih saja membuat basah bajuku. Dia kembali memasak untukku. Dan kali ini mie instan yang dia masak kita santap bersama. Hanya berdua dan tidak akan pernah ada orang lain. Kasih, terimakasih. 

8 komentar:

  1. salam kenal sob.., folbek ya.., thx *smile

    BalasHapus
    Balasan
    1. Salam kenal juga mas.

      Terimakasih atas kunjungannya

      Hapus
  2. asoooooyyy ...kenalin dong bidadarinya. Mimi pan mau kenal jg dg bidadari berkelopak jingga itu :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Pasti nanti saya akan kenalkan ke mimi.

      Tetapi nunggu mimi nyicipi jajanan Jember dulu.

      Kapan ya mimi datang ke Jember

      Heheheeeee terimakasih mimi.

      Hapus
  3. Balasan
    1. Heheheeeee

      Apa kabar kang?

      Gak dolan nang Balung?

      Hapus
  4. Balasan
    1. Apanya yang di tes mbk?

      Makasih kunjungannya.

      Salam tes balik.

      Hapus