PENGGEMBALA KAMBING PENCANDU INTERNET

3 Agt 2013
Credit

Ini cerita yang saya alami sekitar sepuluh tahun silam. Tepatnya saat saya masih dengan setia menjalani jadual sebagai salah satu siswa Sekolah Dasar Al-Hidayah yang berada di Desa Karangduren. Sebuah sekolah yang sederhana. Bertiang tembok kurus dan bebatas dengan guratan kawat yang dianyam rapi sebagai cendelanya. Dan di balik cendela berdebu itulah biasa aku mengasah kemanpuan berhitungku yang masih minim. Mencoba dan terus berusaha mengeja huruf di beberapa kata. Serta berjuang memahami rasa takut ketika PR datang.

Masa kecil adalah masa yang tak mungkin dapat gampang dilupakan. Masa sekolah pun juga demikian. Bahkan ada yang pernah bilang bahwa masa sekolah adalah masa yang paling indah. Karena pada masa itu kita tak memikirkan hal apapun kecuali bebas dan bersenang-senang. Namun tidak untuk sekarang. Berusaha dan berjuang untuk kelangsungan hidup. Bekerja setiap hari. Meminimalisir hura-hura. Dan menjadual ualng pengeluaran setiap hari. Indahnya hidup bukan berarti kita berhura-hura.

Mengembalakan kambing adalah merupakan pekerjaan wajib bagi saya. Setelah pulang dari sekolah, setelah istirahat dan makan siang, biasa aku mengasah sebilah alat penebas rumput yang sudah kusam. Lalu dengan ringan aku melangkah menyusuri kebun-kebun milik tetangga. Terkadang tak jarang pun aku juga pergi ke sawah. Rasanya pun juga menyenangkan. Berjalan membawa beberapa kambing, sekaligus menebas rumput-rumput yang kelihatan tebal.

Lalu bagaimana dengan peran orang tuaku dalam perkembangan pendidikanku di sekolah. Mereka tak pernah memaksakan kehendaknya. Semua terserah kepadaku. Apa yang menjadi keahlianku kelak merekapun hanya mendukung saja. Tanpa membebani apapun, dan tanpa melotot, membentak, bahkan menyuruhku melakukan apa yang mereka kehendaki. Karena itulah saya bisa belajar dengan baik. Dan pelajaran berhitungku kian hari kian semester dan kian tingakt kelasku selalu menunjukkan peningkatan yang signifikan.

Disekolah saya juga diajarkan tentang pelajaran Internet. Memperkenalkan saya sebuah mesin pencari dahsyat yang di sebut Google. Mempertemukan saya dengan banyak aplikasi canggih yang dapat dicari lewat layar mini. Dari sekolah inilah saya mulai banyak banyak tahu tentang dunia maya. Bahkan mungkin dapat di bilang jatuh cinta.

Seiring dari pada itu. Kecanggihan teknologipun juga semakin berkembang kian bertambahnya jaman. Yang bikin saya senang, saya tak perlu banyak keluar duit untuk ke warung internet karena mulai saat itu saya bisa mengakses apapun lewat media mungil bernama handphone. Yah bahasa keren yang dipakai sampai sekarang adalah mobile internet. Dimanapun, kapanpun, dan saat apapun kita dapat mudah mengakses internet lewat ponsel/handphone. Dulu yang paling sering saya lakukan adalah mendownload game, mendownload gambar, dan thema handphone.

Virus kecanduan internet sudah mendarah daging pada diri saya. Hingga saya pun banyak mengesampingkan PR dari sekolah bahkan malas sekali untuk belajar. Tidur terlalu larut, dan bangunpun juga semakin siang, juga datang ke sekolahpun juga semakin sering terlambat. Akhirnya hukuman dari Bpk/Ibu gurupun tak ter-elakkan. Ditambah lagi surat peringatan dari BP juga diam-diam sering mampir ke rumah tanpa sepengetahuan saya. Malang juga nasib saya, banyak pula pelajaran saya yang menurun. Sehingga kekecewaan wali kelas serta guru-guru yang lain pun tak terbendung mampir ke telinga saya, bahkan nasihatnya kini juga semakin detail terdengar. Penurunan totalitas belajar saya di sekolah membuat wali kelas saya rela datang kerumah untuk memprotes dan mengkonsultasikannya kepada orang tua saya.

Mulai saat inilah kebebasan saya mulai dibatasi. Handphone sayapun juga turut mereka cekal, diganti tanpa jaringan GPRS. Dan hanya bisa dibuat mengirim menerima SMS dan menjawab telepon masuk. Alhasil kehidupan sayapun kembali seperti semula. Nilai pelajaran baik, prestasi sayapun juga meningkat, dan kekecewaan semua pembimbing disekolah juga beralih senyum.

Orang tua saya pun juga kembali aktif berkomunikasi dengan saya, baik untuk urusan sekolah maupun kebutuhan saya yang lain. Berbagai kegiatan sekolah sayapun kembali proaktif saya ikuti, mulai dari cerdas cermat maupun pelatihan tingkat Kabupaten. Hal ini menjadikan saya sebagai penyumbang piagam dan piala terbanyak di sekolah.

Semakin bertambah dewasa dan mulai faham bagaimana memanfaatkan waktu. Membuat fasilitas yang dahulu sempat saya miliki dikembalikan kembali kepada saya. Dan bukan hanya mendownload game ataupun gambar, kini saya bisa bertanya kepada google akan banyak pelajaran dan bab kompetensi yang kurang saya fahami. Alhamdulillah.

Peran orang tua kepada seorang anak memang sangat menentukan bagaimana seorang anak dapat berfikir untuk lebih dewasa. menurunnya tingkat pendidikan di republik ini snagat berkaitan dengan melemahnya peran orang tua juga masyarakat. Banyak orang tua beranggapan bahwa pendidikan yang baik untuk anak semuanya diserahkan hampir penuh kepada pemerintah. Orang tua pun minim memperhatikan terhadap apa yang terjadi di seputar pendidikan baik itu guru, kurikulum dan metode pengajaran. Tidak heran pendidikan di republik ini menghasilkan manusia-manusia yang tidak sesuai dengan harapan.

Metode pembelajaran yang baik justru berawal dari keluarga serta lingkungan masyarakat sekitar. Bagaimana seorang anak berkreatifitas dan menciptakan hal-hal yang baru untuk dikuasai. Bukan hanya orang tua, anda juga perlu memanagemen hidup keluarga anda, khususnya bagia anda yang mempunyai adik. Pendidikan memang perlu namun memperhatikan mereka juga sangatlah penting.

Tulisan ini diikutsertakan dalam contest yang diadakan oleh Lomba Blog DP-Talk dengan Topik Peran Orangtua mengatasi Trend Mobile Internet terhadap perkembangan anak” 
LOMBA BLOG DPTALK

19 komentar:

  1. memang mas, saya juga kalau udah didepan laptop sambil internetan akan lupa sama pekerjaan yang lain.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaa memang sulit sekali untuk berpisah agak lama.

      Apa ya kira kira obatnya?

      Hapus
    2. beneran mas, dulu saya demen sama buku, giliran televisi lahir, beralih ke televisi, internet lahir plus laptop, wah susah deh lepas dari laptop dan internet. masih belum bijak mengatur yang satu ini

      Hapus
  2. Orang tua yang bijak adalah yang selalu melakukan terbaik untuk anakanya. Meskipun terkadang menyakitkan hati anak (untuk sementara waktu saja).

    Kalau nggak disita, bisa tambah jeblok pelajaran di sekolah karena kecanduan internet. Kita ternyata sama sob. Sama-sama suka dunia internet.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah tapi kalau Mas Yitno kan sudah beda, levelnya lebih tinggi.

      Hehehee

      Hapus
  3. Semoga menang ya buat lombanya =p~

    Internetan emang berbahaya, tapi kalo kita bisa mengontrolnya ya niscaya, bakal terjaga juga :)

    BalasHapus
  4. gue baca dari awal sampai akhir, eh... ternyata di ikut sertakan dalam lomba, uhm 8-)

    Btw, emang betul banget bro. Masa yg paling indah itu masa kecil dan masa sekolah. Karena disanalah kita masih bisa bertatap muka dengan temen-temen yang memiliki rasa jujur dalam berteman. Dan kalo sudah kuliah... ah, rasanya tipis banget nemuin yang begituan.

    Gudlak ya buat lombanya. :d

    Oh ya satu lagi nih, yg megang laptop kan kita, yang internetan juga kita, kalo bisa jgn sampai kelewatan seperti itu lah... papa gak suka kalo seperti ini *salam konyol*

    BalasHapus
    Balasan
    1. Heheee terimakasih Papa Angga.

      Amin, salam konyol kembali dari Jember..

      Hapus
  5. wah orang tuane sampeyan siip mas, nek aku malah luweh parah, punya hape ae baru kelas 2 sma, hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iku wae model nokia seng lawas sam, seng fotone gak iso gawe zoommm hahahaa

      Hapus
  6. aku terpesona sm foto shaun the sheepnya :)
    sukses ngontesnya yaa..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Mbk, terimakasih do'anya.

      Kalau mau silahkan di pajang di kamar Mbk Shaun the sheep nya..

      Hapus
  7. Mendukung tulisan ini sebagai pemenangnya. Sip mas Jaswan :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terimakasih ya bunda.
      mohon maaf lahir bathin.

      Hapus
  8. Saya juga masuknya ke pecandu internet kayaknya deh :(
    sukses ngontesnya mas ^ ^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Belum beruntung nih saya Mbk. Hehehee

      Hapus