SEANDAINYA AKU SEORANG PENDEKAR

30 Sep 2013

Ketika saya masih kanak-kanak dulu, saya sering diajak oleh nenek untuk menyaksikan salah satu film kolosal di salah satu stasiun televisi. Masih ingat bukan dengan film macam Tutur Tinular, Dendam Nyi Pelet, Misteri Gunung Merapi (Mak Lampir), dan Angling Dharma?.  Film-film tersebut sering mewarnai progam-progam acara di layar kaca, bahkan tidak tanggung-tanggung acara tersebut hadir di setiap harinya.

Saya begitu antusias dan bersemangat sekali saat setelah Magrib tiba. Setelah saya pulang mengaji dan menyelesaikan tugas hafalan berhitung dengan Mama. Saya pun riang gembira melangkahkan kaki menuju kediaman salah satu tetangga saya yang mempunyai televisi berukuran cukup lebar dan mempunyai banyak warna. Suasana yang beginilah yang sering saya tunggu-tunggu. Selain saya bisa bebas dari menulis dan berhitung angka-angka, saya juga bebas memainkan khayalan saya untuk menjadi seorang pendekar aliran putih yang sakti sekaligus dapat menumpas segala kejahatan di muka bumi.

Menjadi seorang pendekar adalah merupakan khayalan. Karena menurut saya, menjadi seorang pendekar yang selalu membela kebenaran adalah merupakan tindakan yang mulia. Memiliki olah kanuragan yang kuat, pedang yang sakti, kuda yang tangguh, dan mempunyai ilmu terbang serta menghilang. Pasti musuh akan kalah bahkan lari terbirit-birit karena ketakutan dengan ketangkasan saya.

Khayalan itu merambat dengan sangat cepat dalam diri saya. Dengan sekuat tenaga saya mencoba mewujudkannya, namun hasilnya gagal. Bahkan setelah pulang sekolah saya sering bermain petak umpet dengan Mama guna menghindari jadual makan dan tidur siang. Saat kondisi sudah sepi, saya beranjak menemui teman-teman saya yang sudah menunggu di belakang rumah.

Membuka pintu kamar secara diam-diam dan mengambil sebilah batang pohon kopi untuk saya jadikan pedang saat saya bermain perang-perangan dengan teman-teman. Seandainya saya dapat menghilang layaknya Prabu Angling Dharma pasti saya akan dengan sangat mudah keluar dari rumah untuk membolos dari tidur siang.

Berkumpul dengan teman-teman adalah hal yang begitu saya tunggu. Karena hanya dengan merekalah saya dapat dengan bebas melampiaskan khayalan saya untuk menjadi seorang pendekar yang tangguh tiada tandingan. Namun sungguh sangat hebat gejolak yang saya dan teman-teman dapatkan. Saya dengan teman-teman bagaikan sekumpulan kru perfilman yang luar biasa. Kita bersama dapat menciptakan dialog dengan cepat tanpa Sutradara. Kita juga dapat dengan akurat melakukan adegan demi adegan yang memuaskan tanpa ada Produser dan Tim Creative. Dan kita semua dapat dengan sukses menuntaskan episode dengan hasil yang memuaskan tanpa sinopsis. Hebat bukan?.

Bermain dengan khayalan memanglah indah. Kita bebas memilih apapun yang ingin kita khatyalkan. Cerita ini hanyalah sebagian dari beberapa hal yang sempat saya khayalkan. Berkhayal yang dapat membuat saya sedikit tertawa bila mengingatnya. Namun itulah anugrah hidup di masa kecil. Dimana pada masa itu kita bebas melakukan apapun yang kita mau tanpa ada yang melarang.

37 komentar:

  1. makasih yaa Mas.. sudah tercatat sebagai peserta GA khayalanku

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama-sama Mbk.

      Sukses juga untuk menjurinya ya.

      Hapus
  2. kalo aq dulu pernah berkhayal jadi Tuxido Bertopeng.. ngerti opo ora cak? hihi...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Pahlawan opo kui cak.

      Power Ranger ta?. Hahahaaa.

      Hapus
  3. Wah jangan sampai ada sebuah kepandaian manusia bisa hilang macam pendekar sam. Bahaya nih, para terpidana pasti banyak yang memanfaatkan

    sukses GA-nya ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih sam.

      Jadinya terali besinya gak laku yo sam. Hehee.

      Hapus
  4. Dunia anak memang spontan, alamiah tanpa rekayasa dan setiap lakonnya memberikan kenangan yang sangat bermakna.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul sekali Pak.

      Saya gak merasa kok bisa sebesar sekarang ini loh ya.

      Hapus
  5. Kita ketemu di lapangan
    Saya berkhayal menjadi pendekar tandingan dari seberang sungai
    maju kalau berani ha ha ha ha

    Semoga berjaya dalam GA
    Salam hangat dari Surabaya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Heheee Pakdhe onok onok wae.

      Mari kisanak, majulah.

      Hapus
  6. Jadi inget jaman anak-anak senang berkhayal jadi pendekar. loncat dari pohon nyangsang. he,,, he,,, he,,,,

    Salam

    BalasHapus
    Balasan
    1. Loh kok bisa nyangsang to Kang.

      Piye to... olah kanuragannya yang ampuh ya.

      Hapus
  7. Sekarang kan juga sudah jadi Pendekar nih --- Pendekar nge-blog, hehe...Smg sukses GA-nya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah sesuatu sekali ya Nda.

      Maturnuwun sudah kemari.

      Hapus
  8. sepertinya kita semua pernah berkhayal jadi pendekar atau super hero ya....selamat berlomba..semoga menjadi yang terbaik...salam :-)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terimakasih Pak Hariyanto.

      Salam sukses kembali.

      Hapus
  9. Pendekar di film atau di rumah nih?

    BalasHapus
  10. hehe, aku juga dulu suka nonton film kolosal di tv, tapi pengen jadi pendekarnya pendekar yg di china itu :D kerenn bisa terbang haha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Jangan tinggi tinggi terbangnya Mbk, nanti jatuhnya biar gak sakit.

      Hapus
  11. Waktu kecil, apa saja yang kita baca dan lihat, kalau menurut kita keren, pasti berkhayal ya, Mas. Gara-gara sering baca Kho Ping Ho dan Ganes TH, dulu saya juga pernah berkhayal jadi pendekar

    BalasHapus
    Balasan
    1. Khayalan kita sama ya Bu.

      Heheee saya ada temannya ternyata.

      Hapus
  12. aku dulu pengen jadi kuda putih nya tong sam cong. hehee.. gak mbois ya.. wkwk

    BalasHapus
    Balasan
    1. Loh kook malah pingin jadi hewan Mbk Lukcy.

      Ahhh benar benar gak boys dong.

      Hapus
  13. kalo pendekar di film film dulu keren keren.. kalo pendekar di film sekarang ?? errrr

    BalasHapus
    Balasan
    1. Pokok jangan sampai bikin mual ya Mas.

      Hapus
  14. Selamat pagi sahabat tercinta,
    Dengan gembira saya sampaikan bahwa Anda menjadi salah satu pemenang pada Kuis Tebak Nama Model BlogCamp Group.

    Silahkan cek di http://abdulcholik.com/2013/10/03/lebih-dekat-dengan-muna-sungkar/

    Selanjutnya kirimkan nama,alamat lengkap, no.HP via email ke : decholik@gmail.com

    Terima kasih

    Salam hangat dari Surabaya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya sudah kirimkan alamat lengkap melalui email pakdhe.

      Matur nuwun njih.

      Hapus
  15. haha.. kalo dulu yang ngajak nonton bukan nenek tapi ibu dan bapak :D
    memang film kolosal dulu terlihat lebih menarik tak seperti film kolosal yang sekarang yang terlalu mengada-ngada :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Lebih fantastik ya Om, sekarang lebih modern kali.

      Hapus
  16. Hahaha, gambare yang jadi jaka tingkir. Dulu pas awal muncul karaktere tenang diem, sekarang main ftv jadi orang bego.

    BalasHapus
  17. aku dulu suka di panggil Mantili, tau gak? heheh

    BalasHapus
  18. kalo anda sebagai pendejar, sy akan takut jika bergelut. hihihi
    salam kenal... kunjungan perdan kawan..

    BalasHapus
  19. tak kiro pendekar iku singkatane pendek tapi mekar jas, ternyata ora :D

    BalasHapus
  20. juoszzz....
    ikutan ah.. *msh nyimak*

    BalasHapus