BERSEPEDA, SIAPA TAKUT???

31 Jan 2014

Sudah dua hari ini saya dilanda kerisauan. Saya super pusing. Pasalnya kontak motor saya raib entah kemana. Hilang bagai tertelan bumi. Sebenarnya hal ini tidak terlalu menyiksa saya. Kontak masih bisa diduplikat dengan memberikan ongkos tak seberapa mahal kepada tukang kunci. Namun efisiensi waktu yang saya khawatirkan dapat menurunkan loyalitas saya sebagai tukang sapu disalah satu warung internet, mengingat saya adalah termasuk seseorang yang sangat sulit untuk bangun lebih pagi.

Baiklah, paragraf diatas merupakan pembuka dari cobaan akhir bulan yang berujung pada sebuah hikmah yang mana setiap hikmah dan manfaat itu bisa didapatkan tanpa harus mengeluarkan tabungan maupun mengurangi saldo di rekening sahabat semua.

Tepatnya lima tahun silam, juga tepatnya sebelum saya lihai mengendarai kendaraan bermotor, saya terlebih dahulu terbiasa mengemudikan sepeda jenis jengki yang bahan bakar utamanya adalah kekuatan kedua kaki (baca : menggayuh). Hampir setiap hari saya bersama teman setingkat STM melakukan olahraga rutin tersebut mulai dari rumah hingga sampai di sekolah. Walaupun kaki kami semua pegal-pegal namun karena hal itu harus kami lakukan, ya harus kami laksanakan.

Menurut saya hal ini tidaklah susah. Ada banyak hikmah yang bisa saya dan teman-teman dapatkan. Salah satunya adalah menikmati pemandangan desa dengan lebih lama dan leluasa. Kami semua jadi bisa memetik pelajaran penting bahwa dibalik kebebasan kita baik kebebasan sekolah, kuliah, dan bermain itu ada peran penting orang tua yang selalu berusaha untuk mencukupi kebutuhan anaknya. "Koyok ngunu kui perjuangane wong tuo kanggo nyekolahno anak'e" (seperti itulah perjuangan orang tua untuk menyekolahkan anaknya) begitu celetukan saya kepada teman-teman.

Nah, pengalaman lima tahun silam itu ternyata terulang beberapa hari ini. Ketika kontak motor saya hilang, maka salah satu solusi yang harus saya tempuh untuk menjalani aktifitas sehari-hari adalah beralih ke kekendaraan yang tidak mengeluarkan asap berpolusi itu. Iya, saya harus kembali mengeluarkan sepeda jengki saya dari garasi. Mencucinya, lalu menserfis beberapa organnya yang mulai berkarat. Dan syukur Alhamdulillah, sepeda jengki saya masih dapat saya manfaatkan walaupun sudah tak ringan dan cepat seperti jaman saya dulu STM.

Sepeda jengki saya berproduck luar negeri bermerk Phoenix, warnanya biru. Sepeda ini merupakan peninggalan Almarhumah Embah (baca : nenek). Nenek saya adalah seorang wanita tangguh. Diusia beliau yang sudah lanjut, saya masih dapat melihat kegigihannya memenuhi kebutuhan hidupnya sebagai Pengrajing Rinjing. Sahabat semua tau apa itu Rinjing? Iya, dulu Rinjing memang sangat familier. Terutama pada saat musim panen tiba. Rinjing merupakan wadah yang sangat baik untuk menyimpan hasil panen. Rinjing terbuat dari bambu yang dianyam membentuk tabung yang apabila di jual harganya dapat berkisar Rp 20.000 saat ini. Nenek saya hebat, bayangkan saja diusianya yang sudah menua beliau dapat memproduksi Rinjing hingga delapan buah dalam seminggu. Hebat kan!!!


Oleh karena itu saya sangat teristimewa sekali dapat menjaga dan memanfaatkan peninggalan nenek hingga sampai saat ini. Walaupun hanya sebuah sepedah jengki. Namun saat menaikinya saya seakan belajar dari kegigihan dan semangat nenek. Sayang sekali beliau sekarang sudah tiada, seandainya beliau tau cucunya menaiki sepeda miliknya, pasti beliau akan tersenyum bangga serta bahagia.

Ini hikmah yang saya dapatkan, saya kembali dibuat bangga dengan kehidupan di desa tempat saya saat ini tinggal. Saya juga bangga dengan Indonesia yang mempunyai berjuta sumber daya yang sangat melimpah sehingga kita semua khususnya saya dapat memenuhi dan bertahan hidup hingga sekarang. Alhamdulillah Ya Allah. Dan semuanya itu saya dapatkan hanya dengan bersepeda saat berangkat kerja. Irit sekali juga tidak pelit.

14 komentar:

  1. wah sepeda jengki merk phonik ini jaya ditahun 80 an dan sekarang sudah kalah dengan sepeda jenis sepeda gunung.
    Sayangnya saya ini gampang banget bosen kalo urusan olah raga dan sepedahan, tapi kalo sudah seneng, hampir tiap pagi nggowes

    BalasHapus
  2. di makassar, pengguna sepeda jengki malahan membentuk komunitas..... selamat berlomba ya, semoga menjadi yang terbaik,,,
    keep happy blogging always..salam dari makassar :-)

    BalasHapus
  3. Hehehe, saya tidak bersepada sudah lama sekali efek naik angkot mulu hehe

    BalasHapus
  4. bersepeda juga bikin sehat :)

    BalasHapus
  5. What ?
    Phoenix ?
    Seingat saya ... sepeda mini saya juga dulu mereknya Phoenix ... tahun 1974 lagi ngetop-ngetopnya tuh ...
    semua anak kompleks punya sepeda mini phoenix. Di stang, grip pegangan tangan kanan dan kiri ... masing-masing ada rumbai-rumbainya ... warna-warni

    Semoga sukses di perhelatan kakaakin Wan

    Salam saya

    BalasHapus
  6. Saya juga punya sepeda jengki di rumah Mass Imam. Sampai sekarang sepeda itu masih dipakai kepasar sama Ibu.
    Dibanding sepeda model lain saya paling suka naik sepeda jengki kesannya kokoh dan gagah hehe

    BalasHapus
  7. dilanjut aja mas, bersepeda terus, biar makin sehat...

    BalasHapus
  8. speda jengky.. warna biru langka tuh..

    aq ja udah lama mas ga gowes nih

    BalasHapus
  9. Eh? RInjing itu kalo dalam bahasa banjarmasin artinya wajan loh :D

    BalasHapus
  10. Aku udah lama banget nggak sepedahan, hiks kangen, sepeda rusak karena jarang dipake *eh malah curcol* :D

    BalasHapus
  11. Terkahir nai se[eda seperti ini tahun 1994 di Yogya untu keliling Kota Yogya. Tapi kalau sekarang di Jakarta bisa juga sih naik sepeda seperti ini di Kota Tua Jakarta. He,, he, he,,

    Salam

    BalasHapus
  12. naik sepeda tentu hemat dan menyehatkan yah... ^_^

    BalasHapus
  13. mas, sy baca ini ssdh baca postingan ttg red devil yg digondol penjahat. eh, ada feeling ga waktu itu, kok kunci kontaknya hilang.

    BalasHapus
  14. sepeda jengki ... saya pernah naik walau kesusahan :p
    hihi ... saya trauma soalnya pernah jatuh >.<

    eh namanya lucu ... kayak hewan yg imajinasi itu loh... burung keabadian

    BalasHapus