DARAH MUDA

29 Mei 2013

Darah muda darahnya para remaja
Yang selalu merasa gagah, tak pernah mau mengalah
Masa muda masa yang berapi-api
Yang maunya menang sendiri walau salah tak perduli, darah muda

Itulah sepenggal lirik dari salah satu karya Raja Dangdut kita. Liriknya sederhana namun punya banyak makna. Mungkin itu kiranya yang terjadi sekarang?.

Beberapa waktu lalu, tepat tanggal 24 Mei 2013 adalah hari yang begitu menentukan bagi seluruh siswa dan siswi tingkat SMA/MA/SMK. Yaitu pengumuman kelulusan. Banyak yang wira-wiri datang ke Warnet hanya untuk mencari informasi mengenai hasil yang akan mereka terima. Namun, lagi-lagi mereka harus gigit jari. Karena Kementrian Pendidikan masih belum menyebarkan hasilnya hingga sore hari. Mereka hanya menunggu hingga Pukul 5 sore. Apabila tidak ada wali guru yang datang kerumahnya berarti mereka LULUS. Dan hasilnya merekapun bertambah was-was.

Tiada berhenti saya untuk memberikan semangat kepada mereka. "Sabar" itu kata yang kerap saya ucap setiap kali mereka memasang muka kecewa. Lantas merekapun membantah dengan banyak alasan. Salah satunya "kitakan ujian susah mas, masak pengumuman aja juga masih dipersulit". Namun saya membalasnya hanya dengan senyum dan anggukan. Dalam hati "kasihan mereka".

Kemarin, jalanan di pusat Kecamatan rame sekali. Mereka yang dinyatakan Lulus menggelar aksi bahagia dengan mencorat-coret seragam Putih Abu-Abunya. Mereka juga melakukan Konvoi besar-besaran. Saya heran apa yang sudah meracuni fikiran anak-anak muda sekarang?. Bukankah hal itu sangat merugikan?. Memblokade jalan, membakar spanduk, berdandan ala preman, bahkan tawuran di setiap tempat.


Saya juga melihat. Mereka dikawal langsung oleh guru dan bagian kesiswaan. Padahal segenap aparat sengaja diturunkan untuk menustaskan tawuran pelajar dan konvoi kelulusan tahun ini, namun agaknya mereka pun kuwalahan menghadapi darah muda para pelajar tahun ini.

Bukankah sebaiknya mereka melakukan hal-hal yang positif. Menyumbangkan seragam layak pakainya untuk adik kelas yang kurang mampu. Bakti sosial. Tasyakuran atas kelulusannya. Atau bahkan segera mencari kerja demi membantu perekonomian keluarga. Ada memang saya lihat beberapa berita di layar kaca sebagian mereka menggelar acara bakti sosial. Saya rasa itu ide yang bagus. Menonjolkan sifat kemanusiaan dan memberikan contoh dan tauladan yang baik untuk adik-adik kelasnya.

Mengingat Ujian Nasional (UN) yang amat sulit tahun ini, bahkan sebagian provinsi juga telat dalam hal distribusi soal. Mungkinkah pelajar sekarang lagi mengamuk, demi menuntaskan demdamnya pada proses UN?.

Saya juga kembali teringat saat pengumuman lulusan beberapa tahun silam. Namun saya melewati hari itu dengan jalan-jalan untuk melepas gerah dan untuk mengusir dredeg waktu itu. Dan hasilnya Alhamdulillah memuaskan. Mama, anakmu LULUS. Pelukannya kembali menenangkan fikiranku.

Lalu kalau bibit penerus bangsa semuanya seperti itu, mau di bawa kemana Indonesia?.

14 komentar:

  1. Entah siapa dulunya yang mempelopori hura-hura sesudah pengumuman kelulusan. Sayang banget itu baju dicorat-coret. Katanya untuk kenang-kenangan. Padahal hanya akan jadi pajangan usang belaka...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul tante, adalah sebaiknya kita wariskan ke adik adik kelas kita.

      Saya rasa itu lebih baik.

      Terimakasih

      Hapus
  2. ihh nyindir bgd deh..mimi juga begitu jaman dulu. tapi ga ikutan konvoi, cuma corat coret seragam aja. yg dipake pun baju yg udah lama ga kepake kok [ pembelaan diri ] hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Berarti darah mudanya mimi dulu membara dong.

      Ihir jadi kepengen lihat mimi jaman muda dulu

      Hapus
  3. Ah, kenapa sih harus konvoi. Polusi suara dan polusi udara..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul Mbk Prit, telinga sayapun juga sedih mendengarkan tiap kali mereka meraung raungkan motornya.

      Senang senang kan gak mesti hura hura.

      Hapus
    2. Kayaknya perlu dimulai juga dari yang udah lulus le. piye carane membuat semacam kegiatan pas kelulusan tiba, misal membuat semacam kelompok untuk menampung seragam para siswa yang telah lulus.

      Hapus
    3. Sekarang rata rata pihak sekolah sudah menampung seluruh seragam mereka kok bii, jadi pihak sekolah yang nantinya akan menyumbangkan ke adik adik kelas mereka yang kurang sejahtera membeli seragam.

      Hapus
  4. Setuju mas Imam, eforia yg berlebihan malah akan membawa dampak tidak baik.
    Pakaiannya lebih baik disumbangkan saja.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah betul itu bunda.

      Saya sependapat dengan bunda.

      Hapus
  5. Jangan usia rawan begini, orang dewasa saja kalau sudah berkumpul ramai-ramai kehilangan akal sehat kok Mas..Yah kita dukung lah penegak hukum untuk melarang anak-anak yg baru lulus ujian konvoi seperti foto diatas. Kok seram sekali nampaknya..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Melihat berita di layar kaca.

      Memang aparat sudah diturunkan namun kadar pelajar yang lebih banyak membuat aparat tersebut kualahan menanggulanginya Mbk Evi.

      Namun saya mendukung kok usaha pemerintah.

      Setidaknya masih ada usaha nyata.

      Hapus
  6. iya, pada akhirnya baju ku yang aku coret2 dulu, sekarang malah nganggur d dalam lemari. gak mau makek lagi..hehe sungguh eman-eman.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ya siapa yang mau makek kalau sudah kusut kang?

      Udah gede malu.

      Kesuwun yo.

      Hapus