BELAJAR MENCINTAI ANAK-ANAK

31 Mar 2014
Sebelumnya saya bersyukur sekali. Alhamdulillah, akhirnya email saya dapat terselamatkan selama hampir kurang lebih dua minggu tidak dapat dibuka. Bukan karena password, tapi handphone saya mengalami gangguan teknis dalam menerima kode verifikasi dua langkah yang saya gunakan.

Karena hampir dua minggu saya hanya bisa melihat blog ini tanpa memposting satu artikelpun, maka hari ini saya akan kembali mengisi blog sederhana ini dengan ragam cerita. Beberapa cerita yang memang tidak dapat terlampiaskan oleh tulisan. Heheee yuk mulai sikat.

Baiklah kali ini saya akan bercerita tentang anak-anak. Banyak orang yang mengatakan kepada saya, bahwa saya cenderung menyukai anak-anak. Benarkah? Saya juga kurang tahu. Yang jelas saya memang sangat senang berada di tengah anak-anak. Mungkin dewasanya "Mengayomi", saya hanya ingin memberikan mereka kebahagiaan, betah dengan kehadiran saya, dan merindukan saya tatkala saya tidak datang menemui mereka.

Belajar Mencintai Anak | Pacapaku

Namun, beberapa hari ini saya sering di buat jengkel sama anak-anak. Khususnya anak yang masih duduk di bangku Sekolah Dasar. Sebenarnya permasalahnnya simple namun tidak boleh diremehkan. Mereka seharusnya mendpatkan perhatian yang sangat serius baik guru sekolah maupun orang tua.

Kronologi :
Sekelompok anak berjumlah enam orang datang menuju meja billing warnet. Saya mulai merengut dan sedikit geregetan. Sudah kebiasaan, mereka selalu datang pada saat jam warnet mulai rame di datangi pengunjung (pukul 13.00 - 15.00 WIB) mungkin juga pada jam tersebut anak-anak sduah pulang sekolah. Sayup-sayup saya dengar mereka tertawa cekikikan dengan beberapa teman sebayanya. Tentunya hal ini juga sangat mengganggu pelanggan yang lain. Berisik sekali. Saya ingin tahu, apa yang sebenarnya mereka tertawakan? Saya klik "Remote Client" pada billing server. Dan seketika saya kaget. Mereka membuka games online anak-anak yang ternyata kontennya sangat tidak baik untuk dilihat. Astagfirullah.

Sekarang, siapa yang harus disalahkan? Beruntung saya masih sempat berbicara dengan mereka, sekaligus mencari informasi dari mana mereka tahu tentang games online tersebut. Mereka menuturkan, pelajaran menggunakan internet berawal dari lembaga pendidikan dari masing-masing sekolahnya. Jadi mereka memang ada jam khusus pelajaran komputer yang sekaligus membahas internet. Baiklah berarti awal mulanya berada di sekolah. Mungkin dengan semakin pesatnya kecanggihan teknologi seperti sekarang ini, sebagian ataupun seluruh lembaga di negeri ini ingin memperkenalkan internet di kancah pendidikan sekolah dasar. Dengan tujuan agar mereka semakin maju dan berkembang.

Sejauh tujuan dan manfaatnya bagus dan jelas saya sih tidak perlu mempermasalahkan. Namun bila kasusnya seperti yang sempat saya temui beberapa saat lalu. Siapa yang dapat memper-tanggungjawab-kan? Apakah saya sebagai tukang jaga warnet? Ataukah orang tua? Dan mungkinkah masing-masing guru pelajaran komputer di sekolah?

Inilah yang harus kita satukan. Kita mempunyai tugas dan tanggung jawab untuk dapat membuat generasi kita tumbuh menjadi insan yang pinter. Kita belum terlambat untuk belajar dan mengajari mereka. Kita harus ikat kerjasama baik ini supaya kita dapat menjamin kualitas dan kuantitas masing-masing generasi.

Guru disekolah memberikan pelajaran komputer dan internet. Orang tua memberikan nasehat. Serta baik saya maupun banyak penjaga warnet di luaran sana sama-sama memberikan pengarahan dan pengertian, bagaimana memanfaatkan internet secara wajar juga baik. Saya rasa ini akan dapat meminimalisir adanya penyelewengan pemanfaatan internet di usia dini seperti mereka. Tentunya kita harus terus berusaha dan sabar. Insyaallah berhasil.

Begitu pula ketika saya sedang berada di tengah-tengah kelas saat kegiatan Rumah Belajar dilaksanakan. Saya selalu memberikan pengarahan tentang memanfaatkan internet kepada mereka. Karena jujur saja saya sedikit merasa tugas saya tidak maksimal bila apa yang sudah saya berikan kepada adik-adik saya di Rumah Belajar tidak dapat tersalurkan dengan baik. Tentunya kita harus menggunakan bahasa yang komunikatif dan nyaman. Dan sejauh ini mereka semua masih mencintai saya sebagai kakaknya.

Oh iya, kami baru saja melaksanakan kegiatan jalan sehat dan senam bersama hari minggu kemarin. Tungguin aja kehebohannya ya sobat. Do'akan kegiatan kami selalu lancar. Amin.

12 komentar:

  1. Kalau sudah membicarkan soal Billing warnet, ingatan saya langsung ke beberapa tahun yang silam. Sekitar taun 200-2002 saya dulu bekerja paruh waktu (Serabutan) di berbagai warung internet cyber cafe di Pontianak. Lepas dari petugas billing warnet, lalu ngajar dari rumah ke rumah , ngajar les. Kenangan indah yang selalu kuingat

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wahhh pernah pengalaman juga ya Pak.
      Kalau saya jaga warnet sekaligus ngelesi anak-anak SD di desa. Alhamdulillah. Semoga sama-sama berkah dan bermanfaat Pak.

      Hapus
  2. tentunya pengawasan orang tua yang utama, harus bisa memantau kegiatan si anak kesehariannya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Mas. Karena keluarga merupakan lingkungan yang sangat berpengaruh terhadap tumbuh kembang seorang anak. Terima kasih masukannya.

      Hapus
  3. Waahh... baru tau aku bahwa pwnjaga warnet bisa kepo-in window yang lagi dikunjungi ama pelanggannya. *inget2 pernah ngelakuin hal2 yg rahasia gak ya?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaa ya harus dong Mbk. Harus selalu waspada selalu. Hehee.

      Hapus
  4. sayangnya banya juga orangtua yang gaptek, gak tahu aja di warnet itu ngapain. Sayang banget kalo internet cuma dibuat main-main. heuheu
    tapi ada juga anak-anak yang kebablasan dewasanya. bukanya konten dewasa. haduuuh. -_-

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makanya harus selalu waspada Mbk. Jangan sampai generasi kita terjerumus terhadap hal-hal yang kurang baik. Sekali lagi Bahaya.

      Hapus
  5. tehnologi memang senantiasa memiliki dua sisi yang tajam,,,satu sisi untuk hal yang positif dan satu sisi lagi untuk hal yang negatif, tergantung bagaimana kita bisa mengarahkan sang anak untuk memanfaatkan sisi mana buat kebaikan masa depannya, tentunya harus dengan dukungan pendidikan spiritual yang memadai untuk memproteksinya dari hal-hal yang dianggap negatif...
    keep happy blogging always...salam dari Makassar :-)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Benar Pak. Saya sependapat. Terima kasih saran dan opininya. Semoga dengan ini kita dapat memperhatikan kebutuhan buah hati kita dengan lebih baik.

      Hapus
  6. sama seperti apa yang dikatakan oleh mas Hariyanto diatas
    pengarahan dan pengawasan ortu terhadap anak sangat diperlukan...
    agar anak juga bisa memilih dan memilah
    mana yang positif dan negatif dr internet


    salam

    BalasHapus